-->

Mau Ngopi..? Mampir Ke Warkop "Jurig Kunti" Sumiati

Bidik Nusantara
Friday, 16 October 2020, 17:45 WIB Last Updated 2020-10-17T07:34:07Z

CIANJUR, bidiknusantara.com - Masa pandemi Covid-19, berbagai macam cara dilakukan warga untuk mengais rejeki. Seperti halnya, Sumiati (34) seorang janda harus rela banting tulang menafkahi keluarga buka usaha warung kopi (Warkop).

Sepintas terlihat seram, nama warkop 'Jurig Kunti' milik Sumiati, warga Desa Wanasari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur. Namun, setelah terbisa nongkrong ngopi di sana biasa saja ibarat warung pada umumnya.

"Sepintas, saat orang melihat seram pasti. Dan,  aneh. Ada-ada saja," bilang Sumiati (34) pemilik Warkop Jurug Kunti, saat dihubungi melalui via WhatsApp (WA), Jumat (16/10/2020).

Sumiati mengungkap, awalnya sih? Dirinya iseng-iseng saja, bikin sepanduk warung nama seram begitu.

"Tapi, secara kang? Tadi tidak menyangka bakal viral dan banyak dikunjungi," akunya, Jumat (16/10/2020) kepada awak media.

Maih ujar Sumi bercerita, sebenarnya itu nama akun Facebook (FB) dirinya. Kalau jualan warkop sekitar satu bulan lamanya. 

"Ya, tapi alhamdulillah milik rejeki ada, banyak pembeli saat ini," ujarnya.

Apalagi di masa pandemi Corona, jujur saja serba susah mencari uang. Jadi harus putar otak Giman caranya biar usaha ramai. Tapi, tetap selalu mematuhi protokol kesehatan diintruksikan pemerintah.

"Yaitu melalui ajakan kepada para pembeli melalui 3M (Menjaga jarak, Memakai masker dan Mencuci tangan pakai sabun)," bilang Sumiati.

Kalau pembeli, ia menyambungkan, sendiri rata-rata orang sini, ada juga yang dari luar daerah desa. Sementara, harga kopi menjual seperti harga kopi pada umumnya harganya Rp2 ribu per gelas.

Kios warkop dirintis saat ini, kata Sumiati, kini masih ngontrak di pasar Pancalan. Meskipun, modal awal hal dapat pinjem dari BRI. Tapi, modal tersebut bisa berjalan untuk menafkahi anak.

"Bikin ide atau gagasan nama warkop seram seperti itu, tidak ada tujuan atau niatan lain. Hanya untuk supaya cepat diingat saja, dan biar aneh gitu kang," akunya.

Kini, usaha ditekuninya setiap harinya ramai dikunjungi, dari mulai pagi hingga pukul 22.00 WIB malam. Itu banyak yang datang dan beli. 

"Alhmdulalh saat ini jadi nambah banyak teman dan saudara," ucap Sumiati.

Ia berharap, mudah-mudahan usaha warung kopi ditekuni saat ini bisa ramai secara kontinyu. Karena, harus menafkahi orang tua yang sudah jompo juga anak.

Terakhir, Sumi menambahkan, belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah sela.a ini. Semoga saja kedepan dapat bantuan apalagi di masa pandemi Covid-19 sekarang.

"Jujur saja, serba susah. Harus banting tulang demi keluarga. Apalagi saya hidup sendiri belum punya suami lagi," pungkasnya.(Yad)
Komentar

Tampilkan

Terkini