-->

Waduh, Korban Investasi Bodong Per Ketua Kelompok Hingga Rp15 Miliar

Bidik Nusantara
Sunday, 6 September 2020, 21:24 WIB Last Updated 2020-09-06T15:00:39Z

CIANJUR - Para ketua kelompok korban investasi bodong di Cianjur, Jawa Barat. Mengaku kerugian mereka mencapai Rp15 miliar (kurang lebih).

Diketahui, angka miliran rupiah tersebut, dikumpulkan dari para konsumen (anggota) yang jumlahnya hampir ribuan, ada yang melalui ketua kecil (ketua baru) dan ketua kelompok besar.

Hal itu diakuai Mala (32) salah seorang ketua kelompok kecil. "Korban ketua kan.? itu jumlah ada sekitar 80 orang. Dari semua ketua, cuman ada beberapa yang gak aktif. Nah, jadi tinggal tersisa sekitar 76 orang yang aktif," katanya, Minggu (6/9/2020).

Menurutnya, Ketua kelompok besar ada sekitar 10 orang (kurang lebihnya) kerugian angkanya berbeda-beda ada sampai di atas Rp10 miliar, Rp12 miliar hingga Rp15 miliar. "Paling besar ada yang sampai Rp15 miliar. Dari ketua kelompok besar, itu ke bawahnya ketua kelompok baru. Hanya diatas angka Rp1 miliar kerugiannya," tutur Mala, diamini para ketua kelompok kecil lainnya.

Terpisah, ketua kelompok lainnya Acong (48) dan Badrudin memaparkan, kalau yang sudah bergabung paling lama ketua kelompok besar. Tapi, kalau ketua kelompok kecil (baru) rata-rata ada sekitar satu tahun hingga tiga tahun (kurang lebih). "Macetnya itu, sekitar dua tahun ada. Sebelumnya tidak seperti ini. Lancar dan sesuai komitmen," akunya.

Mereka mengakui, namun sayangnya dulu gak secara tertulis (hitam di atas putih) mungkin karena dulu itu sistem kepercayaan awalnya. Para ketua kelompok besar maupun kecil (masih baru) mulai berganung ada sekitar tahun 2012 hingga 2016.

"Jadi kita gak pernah mempertanyakan ini dan itu. Bahkan seakan-akan kini setelah kejadian tertutup dan gelap, macetnya setelah tahun 2018 ada," ungkap Acong.

Menurut Acong, terakhir komunikas itu sebelumnya kontak bikin voice note dengan terlapor (HA). Tepatnya pada tanggal 31 Juni 2020. Alasannya, karena Covid-19, lalu pernah menjanjikan Lebaran Idul Adha 1441 Hijrah/2020, dan hingga sekarang masih simpang siur, gak keluar juga. "Saya berharap bisa ada solusi terbaik, mediasi. Jangan sampai berkepanjangan, karena kami selalu ditekan dan diancam," imbuh, Acong dan Badrudin.

Mungkin, bila tidak selesai juga, lanjutnya, akan mengambil jalur hukum, gimana yang terbaik buat semuanya. Karena, kasihan yang di bawah, mereka sudah ditekan. Bahkan juga diancam sama konsumen, karena konsumen tidak mau tahu. "Intinya mereka ada uang, padahal kita sebagai ketua uang setiap bulan disetor ke terlapor (HA)," paparnya.

Sementara, korban investasi paket bodong tersebut, bukan hanya masyarakat Cianjur saja, melainkan ada juga dari luar daerah. Seperti Sukabumi, Bogor, Bandung, Tangerang, Jakarta, dan lainnya. "Ya, karena kan? Bercabang kang," ujar, Acong dan Badrudin.

Sementara, kasus investasi bodong tersebut, kini masih terus dilakukan pengembangan dan pengejaran Satreskrim Polres Cianjur, untuk mengumpulkan data atau barang bukti terlapor (HA), baik penyelidikan maupun penyidikan. (Yadi)
Komentar

Tampilkan

Terkini