-->

Diiming-iming Paket Menjanjikan, Begini Nasib Korban Investasi Bodong di Cianjur

Bidik Nusantara
Saturday, 5 September 2020, 15:33 WIB Last Updated 2020-09-05T08:36:31Z

CIANJUR- Para korban investasi bodong, di Cianjur, Jawa Barat, diiming-iming paket menjanjikan miliaran rupiah, kini banyak yang stres, serangan jatung (tekanan batin) hingga diasingkan ke hutan. Pasalnya hal tersebut akibat, terkuras. Baik tenaga, pikiran dan materi.

Seperti halnya yang di katakan Cep Supiani (38) salah satu ketua kelompok. Dirinya mengakui, kini banyak yang stres Bahkan, ada yang meninggal dunia akibat melihat tekanan dari bawah (konsumen).

"Ya, karena konsumen tidak mau tahu dan intinya uang kembali. Jelasnya ingin ada pertanggungjawaban," ucap Cecep, Sabtu (5/9/2020).

Menurutnya, hal tersebut karena dari program paket, bahkan bukan hanya ancaman dari konsumen saja. "Bayangkan saja sampai milirah rupiah. Mau gak kepikiran gimana.? iming-iming janji manisnya terlapor (HA) dari angsuran Rp 480 ribu, jadi Rp5 juta. Lalu, paket kurban jadi Rp 2,4 juta. Itu kalau sesuai dijanjikan, bisa lebih investasi dijanjikan awalnya Rp15 juta. Karena kita mau nunggu lagi sampai ke bulan Juni jadi Rp 25 juta," tutur Cecep.

Ia berharap, perkemban kasus tersebut cepat ditindak lanjut. Karena, kata dia, sudah nggak kuat lagi. Bahkan nyawa bisa terancam, konsumen tidak tahu apa-apa soal kerugian ini. "Tentu yang ditekan para ketua kelompok. Dan, sekali lagi harapan si terlapor penipuan ini cepat tertangkap serta uang konsumen bisa dikembalikan lagi dia tanggung jawablah," pinta Cecep.

Senada dengan Cecep, Mala (32) salah satu ketua kelompok lainnya membenarkan, tekanan dari bawah, bahkan diancam sama konsumen. Karena, mereka tidak mau tahu uang kembali.

"Nah, sedangkan kita sebagai ketua setiap bulan uang sudah disetor ke terlapor (HA). Karena, dulu itu sistem kepercayaan awalnya," katanya, diamini beberapa ketua kelompok lainnya.

Menurutnya, kesalahan para ketua kelompok. Jadi, tidak pernah mempertanyakan atau mempermasalahkan secara tertulis soal hal itu. Bahkan, kata dia, semua aset, barang berharga milik para ketua kelompok sudah dijaminkan untuk membayar kepada konsumen. Seperti motor, mobil, sertifikat rumah dan lainnya.

"Semuanya sudah habis, karena konsumen tidak mau tahu. Nah, yang diinginkan itu uang. Sehingga para ketua kelompok bergabung jadi korban investasi bodong tersebut, dari mulai satu tahun hingga delapan tahun, dari kasus kejadian saat ini. Awalnya lancar, tapi setelah tahun 2018, seakan-akan tertutup. Hingga saat ini los kontak, gak bisa dihubungi terlapor (HA). Dan, belum ada konfirmasi sama sekali hingga detik ini," beber Mala, diperkuat Dewi Fatimah (37) ketua kelompok lainnya.

Terpisah, sebelumnya saat dikonfirmasi awak media, Kasatreskrim Polres Cianjur AKP Anton mengatakan, saat ini masih terus dilakukan pengejaran dan akan menindaklanjuti. Sabar saja, butuh proses semua itu.

Ia memaparkan, terus melakukan upaya dan akan menindaklanjuti kasus tersebut, bahkan proses sudah meningkat dari penyelidikan menjadi penyidikan.

"Kita masih proses untuk bekerja, dan terus menganalisa. Apakah hanya terlapor sendiri atau ada pihak-pihak lainnya," katanya saat dihubungi awak media, di Mako Polres Cianjur.

AKP Anton menambakan, berkaitan dengan kejadian kerugian, itu masih sama dengan kemarin. Belum ada penambahan, dan masih belum ada status tersangka.

"Artinya, kasus ini masih menjadi saksi. Jadi saat ini jelasnya sedang terus mengumpulkan barang bukti, dan nanti kalau sudah tertangkap terlapor (HA). Baru akan diinformasikan lagi lebih lanjut," pungkasnya.(Yad)
Komentar

Tampilkan

Terkini