-->

Kuasa Hukum PT Buana Estate Tegaskan Pihaknya Tak Lakukan Pembogkaran Paksa

Bidik Nusantara
Monday, 3 August 2020, 23:26 WIB Last Updated 2020-08-04T02:05:50Z

KAB.BOGOR - Kuasa Hukum PT Buana Estate, Ariano Sitorus Bac SH, MM MH menegaskan, terkait pembongkaran beberapa hari yang lalu di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor. Pihaknya mengku tidak melakukan pembogkaran paksa.

"Kita tidak melakukan pembongkaran paksa, orang yang bersangkutan pemilik Pembangunan kandang ayam sudah kami beri peringatan sebelumnya. Agar si pemilik kandang ayam, membongkar kandangnya sendiri tapi apabila tidak dibongkar sesuai peringatan yang kami berikan. Kami dengan senang hati membantu untuk pembongkaran kandang ayam ini," kata Kuasa Hukum PT Buana Estate, Ariano Sitorus Bac SH, MM MH dalam Konfrensi Pers soal Land Clearing milik PT Buana Esate di Villa Buana Estate Hambalang, Senin (03/08/20).
 
Menurut Ariano, dirinya menduga para biong (makelar) nakal itu telah mendapatkan uang miliaran rupiah dari orang-orang yang ditipu dengan menyatakan sebagai pemegang hak tanah di Block Cheng Low di Kampung Hambalang milik PT Buana Estate. "Tanah tersebut diduga dimanfaatkan biong (makelar-red) secara melawan hak tanpa izin dan diduga dengan bantuan mantan Kepala Desa Hambalang dengan membuat keterangan palsu dalam perjanjian atau pernyataan. Keterlibatan mantan (Kades-red) adalah mengesahkan oper alih hak garapan seolah tanah yang diperjual belikan benar-benar milik biong (makelar). Dia ini orang Magetan, Jwa Timur dan bertempat tinggal di Bekasi. Serta dia bukan orang Hambalang," turunya.

Ariano menjelaskan, bahwa PT. Buana Estate telah mempunyai bukti-bukti kejahatan diduga dari para biong (makelar) yang telah mengeruk uang miliaran rupiah. "Dari perbuatan jahat tersebut lengkap dengan bukti penerimaan uang melalui transfer Bank Mandiri salah satunya Rp.539.000.000,- (lima ratus tiga puluh sembilan juta rupiah) dari korban jual beli tanah garapan milik Buana Estate. Korban penipuan biong (makelar) ini masih banyak lagi. Bahkan Ada pensiunan pejabat turut ditipu dengan membuat surat serta keterangan palsu," katanya.

Para petani yang benar-benar sebagai petani selama ini menggarap itu ada kesepakatan tumpang sari dengan perusahaan yang salama ini hasilnya tidak pernah diminta oleh PT. Buana Estate dan para petani itu tidak dibebankan membayar pajak yang jumlahnya setiap tahun samppai miliaran rupiah disetorkan perusahaan kepada negara," sambunya.



Menurut Ariano, untuk petani tumpang sari dan ada kesepakatan dengan PT. Buana Estate, karena tanah akan dimanfaatkan, perusahaan memberikan uang kerohiman dan menawarkan untuk bekerja di perkebunan Buana Estate. "Perusahaan cukup bijaksana mengakomodir petani, kecuali orang yang mengaku petani tapi sesungguhnya biong (makelar-red) yang memperjual belikan tanah Buana Estate dengan menghasut dan mengajak orang lain seolah-oleh petani," terangnya.

Ia mejelaskan, untuk meyakinkan calon-calon yang hendak diduga ditipu, biong (makelar) dan mantan Kepala Desa Hambalang dengan kawan-kawan yang lain, mereka membangun bangunan kandang ayam yang sesungguhnya ayam-nya hanya sedikit tidak ada ribuan serta Green House dan juga ada villa-villa untuk meyakinkan calon- calon yang diduga akan ditipu, seolah mereka adalah pemilik sah atas hak-hak tanah tersebut.

PT. Buana Estate melalui kuasa hukum Ariano, sudah lama memperingatkan mereka-mereka yang membangun bahkan sejak tahun 2016 sudah diperingatkan bahkan sudah dilaporkan kepada Polres Bogor dengan LP/B/551/V/2016/JBR/RES BGR tanggal 27 Mei 2016 dan No.Pol. STBL/B/1737/X/2016/JBR/RES BGR sudah tingkat penyidikan yang belum tuntas karena orang-orang biong (makelar) tersebut saat diperiksa di Polres menyatakan akan dengan sukarela menyerahkan tanah dan membongkar bangunan apabila putusan pengadilan perkara jelas menyatakan siapa pemilik tanah tersebut.

Sebagai pemilik lahan yang sah, PT. Buana Estate sudah menempuh langkah-langkah hukum dan juga langkah-langkah kekeluargaan terhadap penggarap diduga illegal tersebut. Maka, setelah diberikan teguran, maka perusahaan secara hukum berhak membersihkan lahannya dari bangunan-bangunan liar di atas tanah tersebut agar bisa mengelola dan menanam pada lahan dimaksud  dengan merobohkan untuk mempertahankan tanahnya di Hambalang.

"Selama ini para oknum biong (makelar) nakal selalu mencoba menghalangi PT Buana Estate yang akan menggunakan lahannya untuk menanam dan membangun kawasan Agro Wisata dan sarana publik lainnya," papar Ariano.

Menurut Ariano, penjelasannya tersebut disampaikan untuk merespon berita-berita yang tidak benar yang disebarkan sejumlah oknum biong (makelar) untuk menghalang-halangi upaya PT Buana Estate menggunakan lahannya sendiri. "Mereka membangun opini dengan harapan diketahui pejabat setempat dan bahkan DPRD Kabupaten Bogor karena mereka terancam kehilangan lahan untuk menipu masyarakat. Maka dengan ini saya tegaskan PT. Buana Estate tetap akan melakukan pembersihan lahan untuk mengambil kembali tanah kami dan untuk itu kami minta mereka mengbongkar sendiri bangunannya dan apabila tidak dilakukan kami akan membantu membongkar bangunan tersebut," tegas Ariano.

Menurutnya, sesuai putusan pengadilan dan bukti-bukti yang ada, jangan ada lagi masyarakat yang diduga dirugikan biong (makelar) dan mantan kades yang telah mengeruk uang dari pemalsuan keterangan dalam perjanjian serta penipuan yang jumlahnya miliaran rupiah. "Kami siap melaporkan bersangkutan secara pidana dengan harapan untuk bisa ditahan karena perbuatannya diancam di atas 5 tahun kurungan," pungkas Ariano. (AG)
Komentar

Tampilkan

Terkini