-->

Selain Edukasi, Olah Sampah Menjadi Bermanfaat serta Bernilai Ekonomi

Bidik Nusantara
Wednesday, 22 July 2020, 20:08 WIB Last Updated 2020-07-22T21:48:20Z
KAB.BOGOR - Penerapan Reuse, Reduce, dan Recycle (3R) menjadi salah satu solusi dalam menjaga lingkungan dan sampai sekarang masih menjadi cara terbaik dalam mengelola serta menangani sampah.

Seperti halnya yang dilakukan oleh kelompok swadaya masyarakat mitra Ruhai di Kampung Sukaraja RW 05, Desa Cikeas, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Kelompok binaan di bawah naungan Jaringan Masyarakat Peduli Daerah Aliran Sungai (Jampedas) itu, mampu menggarap sampah hingga 1 ton dalam sehari.

Satu inovasi-nya yaitu dengan cara penerapan 3R dalam mengolah sampah menjadi produk baru yang bermanfaat serta bernilai ekonomi adalah pembuatan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) 3R. Kini sampah yang berasal dari enam RT itu di kelola dengan baik sehingga warga sekitar sudah tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Ketua Jampedas, R Mursyid mengatakan, pengelolaan sampah adalah salah satu kegiatan yang fokus dijalankan Jampedas. Banyak kelompok masyarakat di sejumlah wilayah di Kabupaten Bogor, yang dibina Jampedas seperti kelompok swadaya masyarakat mitra Ruhai ini, yang membuat TPST 3R.

Sejak dirintis tiga tahun lalu, TPST 3R ini, telah membawa perubahan di tengah masyarakat seperti kebiasaan buang sampah sembarangan di pinggir jalan, bantaran sungai, hingga selokan mulai berkurang. Bahkan, sekarang warga malah tertarik untuk mengolah sampah, yang tadinya hanya dua RT kini ada enam RT, karena hasil pengelolaan sampah ini menjadi pemasukan juga buat mereka.

Ia menjelaskan, sampah yang terkumpul akan dipilah sesuai jenisnya yakni organik dan non organik. Sampah organik seperti daun kering, sayuran, buah-buahan itu dapat diolah menjadi pupuk kompos organik (cair dan padat).

"40 persen dari sampah yang masuk kesini adalah sampah organik. Dalam sebulan pupuk kompos yang bisa dihasilkan sebanyak setengah ton setelah di fermentasi selama dua minggu dalam tong komposter. Ke depan, kita akan menambah tujuh tong komposter lagi agar bisa memenuhi permintaan pasar khususnya petani," tutur Mursyid saat ditemui dilokasi (22/7/20).


Menurutnya, untuk sampah non organik tapi bernilai ekonomis seperti botol kaca, kardus, besi, itu dikumpulkan untuk nantinya dijual ke pengepul setiap tiga hari sekali. Hasil penjualan itu menjadi pemasukan tersendiri bagi pengelola TPST.

Di samping itu, kata dia, sampah plastik yang sudah dipilah akan didaur ulang menjadi paving block atau batako. Satu setengah kg plastik, itu bisa membuat satu paving block yang dicampur dengan residu (hasil pembakaran sampah).

"Jadi, sampah yang telah dibakar habis pun residunya masih bisa kita manfaatkan. Dan paving block hasil daur ulang kita ini, telah banyak dipakai untuk pembangunan infrastruktur jalan di desa-desa," ungkap Mursyid didampingi Wakil Ketua Jampedas, Dede Suherman.

Kemudian, lajunya. untuk sampah diaers, itu kita bisa daur ulang menjadi pot tanaman. Jadi, bagi warga yang punya sampah pampers bisa mendapat satu pot tanaman yang ditukar dengan 10 diapers yang sudah dibersihkan. Atau 10 diapers kita hargai 200 rupiah atau kita tukar dengan 1 diapers baru. Ini bisa menjadi tabungan.

Masih kata Mursyid, untuk sampah yang tidak bisa didaur ulang akan dibakar dalam Insinerator atau tungku pembakaran. Insinerator ini, memiliki dua tungku dengan kapasitas sampah yang dapat dibakar sebanyak 1/2 hingga 1 ton per-tungkunya. Di dalam tungku, terdapat dua saringan yang berfungsi menyaring sekaligus memisahkan sampah dengan residu (hasil pembakaran sampah). Kemudian ada Scruber yang berfungsi sebagai penyaring partikel-partikel berbahaya sehingga asap yang dikeluarkan tidak membahayakan.


"Hanya sampah yang tidak bisa didaur ulang saja yang kita bakar. Kalau di gambarkan satu grobak sampah penuh akan berubah menjadi satu pengki residu. Abu atau residu dari pembakaran itu, bisa kita manfaatkan lagi untuk pembuatan batako dan paving block," terangnya.

Penerapan sistem 3R, kata Mursyid dapat dilakukan oleh siapa saja dalam kehidupan sehari-hari. Hanya yang tidak mudah adalah membangun kesadaran masyarakat untuk mau mengolah sampah dan menjaga lingkungan.

Padahal, kata dia, pengelolaan sampah bisa menjadi sumber penghasilan tersendiri, di samping ada nilai edukasi yang didapat yakni masyarakat bisa mengolah sampah menjadi bermanfaat serta bernilai ekonomi.

Ini, lajut dia, adalah langkah dan upaya kita membuat kampung ramah lingkungan, menerapkan pola hidup sehat serta membuat sampah yang terbuang menjadi uang.

"Saya berharap pemberdayaan masyarakat lewat pengelolaan sampah maupun lingkungan ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain. Dan, kami siap memberi pelatihan kepada siapa saja yang ingin belajar mengelola sampah dengan metode 3R di daerahnya," pungkas Mursyid. (Red)
Komentar

Tampilkan

Terkini