Luar Biasa.! Cara Penanganan Orang Sakit Di Kota Bogor - Bidik Nusantara

Kamis, 11 Juni 2020

Luar Biasa.! Cara Penanganan Orang Sakit Di Kota Bogor

KOTA BOGOR - Sungguh naas cobaan yang harus di terima salah satu keluarga SM (37) dan putrinya NWF warga Kp. Katulampa RT.03/0019 Kelurahan Katulampa, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor yang sebelumnya sempat diberitakan terbaring dalam kondisi sakit, terkulai lemah tidak berdaya ditengah Pandemik mewabahnya Virus Corona dan disaat berlangsungnya penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) belum juga mendapatkan pengobatan yang layak.

Berita sebelumnya di: https://bharatanews.id/2020/05/26/pemkot-bogor-diduga-lalai-memperhatikan-nasib-dan-hidup-warganya-satu-keluarga-termajinalkan/

Sampai detik ini, SM bersama putrinya masih terbaring tanpa adanya perawatan yang intensif dari para profesional medis dikediamannya. Sebelumnya, ia bersama putrinya sempat di larikan ke-RSUD Kota Bogor dan RS UMMI, namun pasien tidak diterima karena masih menunggu hasil patologi anatomi (PA) dari RSUD Ciawi, tempat asalmula pasien tersebut dirawat. Akan tetapi putri pasien sempat dirawat di RS UMMI hingga ada perubahan dan dinyataka membaik serta di ijinkan pulang ke-kediamannya.

Pasalnya, kedua pasien memiliki penyakit yang berbeda, untuk SM, ia memiliki riwayat Mioma Uteri, sementara anaknya NWF dinyatakan mengalami kurang gizi serta flek pada paru-parunya. Namun, untuk saat ini kedua orang tersebut hanya pasrah mendapat perawatan alakadarnya di kediamannya karena pihak keluarga tidak bisa berbuat banyak untuk kedua pasiean tersebut akibat keterbatasan ekonomi.

Berita sebelumnya di: https://bharatanews.id/2020/05/27/kontroversi-penanganan-wnf-anak-kurang-gizi-di-rumah-sakit-kota-bogor/

Ketika di konfirmasi, Camat Bogor Timur Wawan Aswni mengaku bahwa dirinya sudah berupaya maksimal untuk membantu menangani dari daripada pasien tersebut. Bahkan, sebelumnya dirinya sudah membujuk bersama RT/RW, Lurah dan para kader agar yang bersangkutan dirawar di RSUD Kota Bogor.

Keterangan Camat sebelumnya di: https://bharatanews.id/2020/05/29/dinamika-penanganan-siti-muninah-diwarnai-kontradiksi/

"Kita sudah semaksimal mungkin menangani pasien tersebut. SM ini memang sudah lama sakitnya, dan juga dari para RT/RW serta para kader sudah banyak membantu untuk prosesnya. Cuma yang kita sayangkan, baik dari puskesmas juga sudah interfensi kesitu, namun ketika mau dirawat agak susah si ibunya menolak terus," kata Wawan kepada sejumlah Wartawan saat di temui diruangannya. Selasa, (09/06/20).

Hingga, lanjutnya, pihaknya meminta kepada keluarga pasien untuk mengambilkan hasil dari patologi anatomi (PA) di RSUD Ciawi itu sangat susah. Yang akhirnya ia berkoordinasi dengan pihak Puskesmas untuk mengambil hasil PA tersebut. "Ya, sudah bu, kalo memang keluarga yang bersangkuta tidak mau mengambil hasi PA-nya biar kita aja yang ambilkan. Karena bu Yuli kan punya staf yang sama-sama dari medis otomatis lebih mudah aksesnya," ungkap Wawan.

Namun, masih kata Wawan, ketika pasien mau di bawa kembali ke-RSUD yang bersangkutan tetap menolak. Malah dirinya sempat kaget mendapat kabar dari Kapus Bogor Timur bahwa pasien menandatangani surat pernyataan menolak untuk dirawat. "Saya kaget mendapat kabar dari Ibu Yuli bahwa pasien membuat pernyataan lewat suaminya. Yang bersangkutan menolak untuk dirawat, dengan ditandatangani pasien dan disaksikan oleh Rt/Rw sebagai saksinya," tegas Wawan.

Menurut Wawan, SM ini juga mengidap penyakit Paru, hingga kondisi badannya kecil dan harus masuk keparu kologi. "Cuma, disayangkan kita sudah maksimal mencoba merayu sebagainya, bahkan memberikan kemudahan sebagainya, akses pun sudah dibantu oleh puskesmas melaui bu Yuli, hingga rujukan sudah dibuat, namun yang bersangkutan tetap tidak mau sampai membuat pernyataan sendiri untuk tidak dirawat.

Padahal, secara medis, lanjut Camat, pasien ini punya BPJS. Pastinya tercover (terpenuhi) semua perawatan disitu. Baik rujukan juga sudah di fasilitasi oleh puskesmas. "Cuman setelah saya tanya, ternyata pasien ini punya rasa traomatik ketika orang tuanya meninggal di rumah sakit. Jadi dia, (pasien) ketika dirawat pun hawanya itu rasa takutnya cukup tinggi melihat kondisi keadaan rumah sakit," ujar Wawan.

Ditemui di kediamannya, keluarga SM membantah bahwa pasien menolak untuk dirawat. Melainkan, kata dia, pasien tidak mau dibawa. "Bukan tidak mau dirawat tapi tidak mau dibawa. Siapa yang tidak mau, ya, pasti mau kalau dirawat mah. Tapi tidak mau dibawa apalagi menggunakan ambulance, pakai angkot aja yang pelan sakitnya minta ampun apa lagi ini di ambulance," ucap ND (Sumai pasisien). Selasa, (09/06/20).

Menurut ND, SM mengaku trauma apa bila dia kembali di bawa oleh pihak Puskesmas. Karena ia merasakan sakit diseluruh tubuhnya saat di bawa di mobil ambulance," Dia trauma saat di bawa oleh pihak puskesnas dan pemerintah kecamatan, maka dari itu dirinya menolak untuk di bawa apa bila belum ada kepastian untuk dirawat," jelasnya.

Pada kesempatan itu, suami SM juga membantah bahwa dirinya tidak pernah mebuat surat pernyataan sebagai mana yang tertulis dalam surat tersebut. "Saya tidak pernah membuat surat pernyatan itu, tapi mereka yang membawa dan menyodorkan surat tersebut untuk ditandatangani istri saya," tegasnya.

Saat dikonfirmasi terkait kebenaran hal tersebut Kepala Puskesmas Bogor Timur, Dr. Yuli sulit untuk ditemui dan selalu menghindar. Bahkan piahak media sudah berusaha baik melalui via Telpon maupun mendatangi Puskesmas Bogor Timur temapat dimana ia bertugas selalu beralasan.

Sementara itu, ketika di konfirmasi terkaita adanya surat pernyataan Pasien Fenny selaku Humas Dinas Kesehatan Kota Bogor membebarkan hal tersebut.

Dirinya mencontohkan, pada pasien yang akan di oprasi. Namun pihak pasien atau atau keluarga menolak, tentunya petugas juga harus punya perlindungan. "Jadi boleh membuat surat seperti itu," tegas Fenny, Kamis (11/06/20).

Fenny menambahkan bahwa pasien tersebut sudah di pantau oleh pihak puskesmas bahkan sudah lama di interfensi melalui makanan tambahan.

Bahkan, kata dia, Pasien di Katulampa ini sudah mendafatkan bantuan dari mana-mana dan banyak pula yang memberi makanan tambahan, seperti susu dan lain sebagainya. "Cuma, dia (pasien) itu punya penyakit, untuk sianak giji kurangnya itu bukan tidak makan. Tapi ada penyakit penyerta, yaitu TB anak," ucap Fenny.

Menurut keterangan Puskesmas Bogor Timur kata Fenny, TB-nya juga sudah ditangani oleh puskesmas,"pungkasnya.(Ria/GN)

Comments


EmoticonEmoticon