Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Saudara Kita yang Berbeda Keyakinan Merupakan Wujud Saling Menghargai - Bidik Nusantara

Selasa, 31 Desember 2019

Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Saudara Kita yang Berbeda Keyakinan Merupakan Wujud Saling Menghargai

JAKARTA - Mengucapkan Selamat Hari Raya Kepada Saudara Kita yang Berbeda Keyakinan Merupakan Wujud Saling Menghargai dan Saling Menghormati Sesama Umat Manusia.

Salah satu isi piagam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan "FREEDOM OF RELIGION" (KEBEBASAN BERAGAMA), tujuan utama doktrin isi piagam PBB adalah untuk menciptakan perdamaian dunia yang abadi berdasarkan kemerdekaan.

Begitu juga perihal KEBEBASAN BERAGAMA dinyatakan dalam amanat konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada Pasal 28E dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi sebagai berikut:

Pasal 28E UUD Tahun 1945:

Ayat (1): Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

Ayat (2): Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Ayat (3): Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Pasal 29 UUD Tahun 1945:

Ayat (1): Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ayat (2): Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Setiap ajaran agama jika diperdebatkan, maka saya yakin satu sama lain semua isinya pasti ada yang bertentangan (berseberangan), jangankan berlainan keyakinan, yang satu keyakinan saja sering kali menimbulkan multi tafsir yang dapat menerbitkan konflik hingga keonaran.

Saya rasa sepatutnya kita tidak selalu marasa paling benar untuk dibuat alasan menjadikan sebuah perdebatan, karena Tuhan Yang Maha Esa sudah menciptakan kita sebagai manusia apa adanya, artinya berbeda-beda tetapi semua manusia sama-sama diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Mampu menerima perbedaan artinya mampu menerima ciptaan Tuhan, sebaliknya tidak mampu menerima perbedaan artinya tidak mampu menerima ciptaan Tuhan.

Di dunia ini tidak ada satu pun manusia yang sempurna (no body perfect), kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap agama mengajarkan kita saling menghargai dan menghormati sesama umat manusia, tidak ada agama yang mengajarkan kita untuk membuat pendapat untuk saling membenci, apalagi saling baku hantam?

Begitu juga sesuai ideologi kita Pancasila, salah satu wujud patuh dan setia pada Pancasila serta sebagai wujud implementasi nilai-nilai Pancasila yaitu harus saling menghargai dan saling menghormati serta saling membantu sesama umat manusia untuk menciptakan perdamaian abadi baik di dunia maupun di akhirat.

Saran dan kesimpulan, sepatutnya kita sesama umat manusia walaupun berbeda-beda keyakinan, akan tetapi dapat selalu pertisipasi atau turut serta menciptakan kehidupan yang harmonis, rukun, damai, tertib, aman, nyaman dan penuh suka cita di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Terima kasih

Mr.Kan
Comments


EmoticonEmoticon