-->

Diah Pitaloka : Bogor Kedepankan Budaya

Bidik Nusantara
Thursday, 26 December 2019, 19:25 WIB Last Updated 2019-12-26T13:56:43Z

KOTA BOGOR - Dalam Milangkala Forum Komunitas Independent (Forkind) Kokolot Bogor, Anggota DPR RI Komisi VIII Partai PDI Perjuangan Diah Pitaloka S.Sos, M.Si mengharapkan adanya semangat Bogor berbudaya.

"Dalam milangka kokolot bogor ke-7 ini , kita ingin semangat bogor berbudaya dan saya melihat sampai saat ini banyak bermunculan komunitas atau paguyuban kasundaan yang sifatnya hanya sporadis artinya masih berupa ririungan," ungkap Diah di Gedung Bravo Hitz Never Cobra kepada wartawan, Kamis ( 26/12/19).

Menurutnya, Bogor itu harus berbudaya artinya menempatkan budaya ketengah bukan kesamping. "Karena masyarakat membutuhkan nilai atau tatanan dan pondasi, budaya harus menumbuhkan hal tersebut seperti silih asah, silih asih dan silih asuh," kata Diah yang juga selaku Pembina Forkind Kokolot Bogor.

Ia menjelaskan, dengan budaya bisa saling merangkul, saling memajukan serta saling mensupport, karena pada dasarnya budaya itu tidak lekang. "Orang melihat kemajuan itu hanya berupa fisik, tapi justru ketinggalan dalam kerangka budaya, makin kering dan tidak punya anonim artinya tidak punya identitas," tegas Diah.

Dirinya beralasan, kenapa Bogor harus berbudaya, karena pembangunan yang ada di Bogor itu harus mengetengahkan budaya menjadi karakter.

"Artinya pembangunan karakter itu menjadi penting tidak hanya kemajuan fisik, tetapi justru kemajuan manusianya. Negara-negara yang maju itu mempertahankan budayanya, contohnya seperti Jepang, China dan Korea, bisa mengkomersilkan budayanya melalui sekolah, maupun perfilemannya," terang Diah.

Kader Partai PDIP itu mengharapkan, baik pemerintah Kota atau Kabupaten Bogor punya kerangka strategis untuk memajukan budaya. Karena berbicara tentang masyarakat Bogor, tentunya sangat banyak komunitasnya, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap budaya dan lingkungannya.

Jadi, kata Diah, disinilah peran pemerintah Daerah harus mempunyai strategi kebudayaan dengan prakteknya.

"Seperti kegiatan dialog budaya, festival budaya dan lain-lain. Karena saya rasa tidak harus mahal dalam mengadakan kegiatan tersebut, Kadisparbud tadi mengatakan dirinya sudah lima tahun ingin membuat pusat kebudayaan sampai sekarang belum bisa terwujud karena terganjal masalah anggaran. Kalau menunggu anggaran besar belum ada, ya kita laksanakan dengan anggaran dari yang terkecil dahulu," ujarnya. (Sally)
Komentar

Tampilkan

Terkini