Ketua FPII Sumatera Utara Desak Penegak Hukum Usut Tuntas Kematian 2 Wartawan Di Labuhan Batu

Ketua FPII Sumatera Utara Desak Penegak Hukum Usut Tuntas Kematian 2 Wartawan Di Labuhan Batu

Bidik Nusantara
Minggu, 03 November 2019

MEDAN - Kematian 2 Orang Wartawan di Labuhan Batu merupakan hal yang sangat biadab dan keji. Ini sama artinya memberi sinyal pesan kepada para wartawan lainnya. Dan pemberitaan ini sudah beredar luas di kalangan masyarakat dan media massa.


Hal itu dikatakan Ketua Forum Pers Independent Indonesia (FPII) Sumatera Utara, Muhamad Arifin. Untuk itu, Ia mendesak pihak kepolisian selaku penegak hukum untuk mengusut tuntas atas kejadian tragis yang menimpa awak media yang diketahui bernama Maraden Sianipar (55) warga Jalan Gajah Mada, Kecamatan Rantau Utara dan M Siregar alias Sanjai Siregar yang keduanya bekerja di media lokal.


"Saya meminta kepada pihak Kepolisian agar mengsut tuntas pelaku pembunuhan serta motif perbuataannya pelaku yang membunuh 2 orang wartawan yang diduga menjadi korban dari fakta kebenaran pemberitaannya di Labuhan Batu Sumatera Utara tersebut," ujar Muhamad Arifin kepada Wartawan, Minggu (03/11/19).


Dalam hal tersebut, Ia juga meminta Kapolri harus memberikan perhatian khusus untuk mengungkap kasus kematian dua wartawan ini. "Khususnya Kapolda Sumatera Utara harus mengungkap dan menuntaskaskan kasus kekerasan terhadap jurnalis ini," tegasnya.


Lanjut Muhammad Arifin menuturkan, bahwa media merupakan pilar ke empat dalam demokrasi, dan sampai saat ini para kru media masih eksis dalam menjalan tugasnya. Jika ada yang merasa keberatan dengan pemberitaannya, pasti menyangkut kebenaran dalam pemberitaannnya. 


"Dan, dalam hal kebenaran tersebut jika ada oknum yang merasa tersudut pasti melakukan hal yang sangat keji dan sampai-sampai harus melakukan perbuatan yang sangat biadab dengan melakukan pembunuhan. Seharusnay jika hanya kesalahan pahaman, yang merasa kerugian bisa melakukan hak jawab," terangnya.


Menurutnya, kasus pembunuhan wartawan ini adalah bentuk ancaman terhadap Dunia Pers di Indonesia. Jika kasus ini tidak diungkap sampai ke akar - akarnya, maka kepercayaan Pers akan memudar kepada pihak penegak hukum. 


"Apalagi diketahui bersama, kalau jurnalis itu dilindungi Undang-undang nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers," ungkapnya.


Ia menambahkan, dalam hal tersebut, si pelaku seperti memberi sinyal pesan kepada para wartawan lainnya dan seolah berkata 'Kalau macam-macam dengan ku dan memberitakan fakta sebenarnya, tanggunglah akibatnya seperti kawan kalian ini'. 


"Sungguh keji dan biadab pemikirannya kalau seperti itu. FPII akan memantau terus perkembangan kasus ini untuk kedepannya," pungkas Muhamad Arifin. (Red)


Sumber: FPII Setwil Sumut