Diimingi Gaji Rp 6 Juta dan Berbagi Kekuasaan, Lilis Saodah Merasa di Rendahkan - Bidik Nusantara

Sabtu, 30 November 2019

Diimingi Gaji Rp 6 Juta dan Berbagi Kekuasaan, Lilis Saodah Merasa di Rendahkan

KAB.BOGOR - Lilis Saodah Cakades No.02 Desa Cadasngampar, Sukaraja, Bogor, merasa direndahkan dan dihina dengan cara diiming imingi berbagi kekuasaan di pemerintahan desa hingga ditawari gaji Rp 6 juta per bulan, bila mengaku kalah dan berdamai dalam proses carut marut sengketa Pilkades.

"Berbagai cara diakukan pihak petahana hanya karena syahwat kekuasaan untuk mempertahankan jabatan, saya tidak haus jabatan tapi nilai demokrasi itu lebih penting untuk rakyat di generasi mendatang, kita harus memberi contoh pada generasi penerus," kata Lilis kepada wartawan, Sabtu (30/11/19).

Bagai mana saya tidak merasa direndahkan, kata Lilis, sang petahana Jejen bersama istrinya Dede Aminah, mendatangi tokoh masyarakat yang nota bandnya orang tua dari timnya agar mau berdamai dengan mengatakan, itu kan Lilis punya skil guru senam udah aja ngajar senam di desa nanti digaji Rp 6 juta per bulan, sambil berkata bahwa kita kan belum batal udhu," ungkap Lilis menirukan timnya.

Mereka, lajutnya, menilai sesuatu itu hanya dilihat dari segi materi dan jabatan semata. Padahal, kata Lilis, proses hukum di Polres Bogor atas tindak pidana seorang joki masih berjalan, tahap penyidikannya dan sengketa di tingkat Kabupaten belum selesai, itu kita harus hormati, belum lagi kita sedang menyiapkan tuntutan utuk proses pradilan di PTUN setelah SK Bupati keluar.

Hal yang sama juga ketika, Jhon P. Simanjitak, SH, MH, penasehat hukumnya didatangi pihak sebelah, dengan tujuan agar berbagi power kekuasaan agar mau berdamai di pemerintahan desa. Dimana Lilis Saodah ditawari untuk mengisi jabatan Sekdes, numun pengacara kondang itupun menolak mentah-mentah.

"Saya akan bicarakan ke calon dan timses apa diterima apa tidak," kata Lilis menirukan ucapan pengacara kondang teraebut ketika utusan tim sebelah meminta untuk berdamai.

Hargai dong penegak hukum penyidik di Polres Bogor dan hargai pula prosesnya sekarang di Kabupaten Bogor, dimana Sekda Burhanudin sebagai Ketua Panitia Pilkades tingkat kabupaten, kita harus tau norma dan kaidah hukum acara," sambung lilis.

Menurut Lilis, seorang tokoh yang juga timnya di Kampung Cadasngampar sering dihubungi Panitia Pilkades dan Ketua BPD melalui whatsApp.

"Tim saya dihubungi lewat WA, Poinnya sudahlah berdamai saja, Ini juga pikiran konyol dan tidak tau aturan, orang prosesnya sekarang ada dipenegak hukum dan pemerintahan kabupaten, ini menunjukan tidak tau aturan dan tidak taat hukum," imbuhnya.

Saya tahun 2009, kata dia, adalah calon Legislatif provinsi Jawa Barat namun belum beruntung. Tahun 2014 kembali maju calon legislatif dari provinsi Jabar juga dari Partai Gerindra namun belum ada nasib baik. "Betul saya guru senam, secara pribadi saya sudah bertahun tahun ngajar senam ibu-ibu petinggi salah satu angkatan di Jakarta. Itu artinya, saya tidak sebodoh dan sekerdil apa yang mereka duga. Ini soal nilai dan cara berdemokrasi rakyat Cadasngampar, dari situ saya bisa dilihat bukan semata mata materi dan jabatan," tegas Lilis.

Ketika disinggung beberapa hari lalu dia bersama timnya dilaporkan ke Polda Jawa Barat, dengan santai Kuasa hukumnya menanggapi hal itu. "Kuasa Hukum saya santai menangapi hal tersebut, itu hak seseorang cuma laporan mereka itu tidak berdiri sendiri ada sebab akibat secara pidana sebelumnya tidak sepotong-sepotong," kata Lilis menirukan Kuasa Hukumnya.

Menurutnya, perkembangan penyidikan Joki Pilkades benama HS dkk di Polres Bogor sudah sampai di Kejari Kabupaten Bogor. "Soal laporan mereka itu TKP ada di Kecamatan Babakan Madang dan Sukaraja, nanti pasti dilimpahkan ke Polres Bogor, kenapa harus takut kita tidak bergeming semua argumen hukum dan fakta siap lahir batin," tungkas Lilis menirukan Jhon P . Simanjuntak.

Sementara itu, saat akan dikonfirmasi oleh wartawan terkait hal tersebut, pihak calon kades petahana (Jejen) belum bisa ditemui.

(Sam/red)
Comments


EmoticonEmoticon