Update

Bidik Channel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

» » » » » Kelompok Tani Hitaci Butuh Baktor Untuk Angkut Limbah Sebagai Bahan Pembuat Pupuk

KAB.BOGOR - Usaha pembuatan pupuk kompos milik Himpunan Tani Citeureup (Hitaci) di Kampung Lebak Pasar RT 03/01, Desa Citeureup, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, butuh perhatian Pemerintah.

Meskipun produksi pupuk ini sudah berdiri sejak 2009 lalu, dan pemasarannya sudah menyebar ke berbagai daerah, bahkan pernah mengharumkan nama Kabupaten Bogor dari sektor pertanian. Namun, sampai saat ini masih jatuh bangun baik di bidang pengolahan maupun dibidang produksi. Sungguh sangat disayangkan jika tidak dikembangkan.

Ketua Hitaci, H. Tatang menuturkan, kendala yang dialaminya saat ini selain biaya produksi juga belum adanya mesin cacah dan mesin coper juga mesin pengering, menjadi kendala dalam proses pengolahan pupuk tersebut.

"Perhatian pemerintah mulai dari Desa, Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Bogor, sangat diharapkan dalam memberikan pendampingan hingga sarana dan prasarana yang moderen sehingga tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga kualitasnya," papar Tatang saat ditemui di Saung Hitaci, Kamis (4/4/19).

Selain itu, lanjut Tatang, untuk mengangkut limbah atau sampah sebagai bahan pembuatan pupuk, dirinya masih kesulitan. Ia berharap kepada Dinas terkait di Kabupaten Bogor untuk memberikan bantuan gerobak motor (Baktor).

"Dengan adanya baktor, kita bisa mengangkut limbah atau sampah dari pasar. Hal itu juga bisa membantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dalam menanggulangi sampah," ujar penyuluh pertanian swadaya wilayah UPT Citeureup, Gunung Putri, Kelapa Nunggal dan Cileungsi yang juga Ketua KTNA Kecamatan Citeureup.

Tak hanya itu, kendala lain juga dialami oleh peternak puyuh binaan Hitaci, karena minimnya biaya operasional dan tidak ada bimbingan. "Untuk menanggulangi penyakit snot saja, mereka tidak ada biaya untuk faksin," imbuhnya.

Disamping itu, Ia memginginkan pihak terkait bisa memberikan ijin untuk memanfaatkan lahan tidur atau lahan HGU milik Pemerintah Kabupaten Bogor, salah satunya bekas PT Kanisatex seluas 32,6 hektar untuk dijadikan percontohan berbagai tanaman dan uji coba pupuk kompos hasil produksinya.

Untuk diketahui, Kelompok tani Hitaci yang berdiri sejak tahun 2009 itu, dapat menghasilkan produksi pupuk kompos sedikitnya 30 ton per bulan dari berbagai limbah termasuk bekas Pempers dan pembalut yang di produksi menggunakan alat seadanya.

Hingga saat ini, Hitaci juga memiliki 20 kelompok tani binaannya di 12 Desa yang ada di 2 Kelurahan dengan masing masing kelompok beranggotakan sedikitnya 10 orang, termasuk para pemuda atau taruna tani, KWT, yang bergerak di masing-masing bidang diantaranya peternakan, perikanan, pertanian dan dibidang produksi pupuk kompos.

Terpisah, Calon Anggota DPD RI Provinsi Jawa Barat nomor urut 50, Iwan Kusmawan, SH mengatakan, ini merupakan suatu potensi yang memang harus di kembangkan. Dimana jika terjadinya kelangkaan pupuk bisa di antisipasi dengan cara mengolah pupuk sendiri.

"Pengolahan pupuk ini mempunyai peran penting dalam produksi pupuk di Kabupaten Bogor, saya akan berusaha mendorong agar mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat dan Daerah," ujar Iwan Kusmawan.

Ia juga menambahkan, dengan adanya produksi pupuk ini juga akan menampung beberapa tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pengolahan pupuk sehingga akan mengurangi angka pengangguran di Kabupaten Bogor, khususnya diwilayah kecamatan Citeureup.(GG)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply