Update

Bidik Channel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

» » » » Eksekutif Jaringan Informasi dan Advokasi Masyarakat Berikan Bantuan Hukum Kepada Orang Tua Siswa SMAN 6

KOTA BOGOR - Menyikapi adanya pengaduan dari salah satu orang tua dari 11 siswa yang di keluarkan oleh pihak sekolah SMA Negeri 6 karena terlibat aksi tawuran, Direktur Eksekutif Jaringan Informasi dan Advokasi masyarakat, Iwan Kusmawan,SH akan menyiapkan tim pengacara untuk melakukan pendampingan dan advokasi guna menyelesaikan persoalan itu secara tuntas.

"Sebetulnya dimana titik masalah yang sangat krusial ada 11 anak yang menjadi korban dan salah satu orang tuanya berkali-kali mengadukan hal yang dialamai putranya untuk meminta bantuan advokasi.
Maka kewajiban saya sebagai Direktur Eksekutif Jaringan Informasi dan Advokasi Masyarakat akan memberikan bantuan hukum. Kita akan siapkan tim pengacara untuk memdampingi salah satu dari 11 korban ini," tutur Iwan Kusmawan kepada wartawan, Selasa (22/1/19).

Disamping itu, masih kata Iwan Kusmawan, pihaknya juga akan menelusuri sebab dan akibat dari persoalan tersebut. Karena menurut hasil kajian dan analisanya, ada sesuatu hal yang janggal dan perlu di ungkap secara jelas dan tegas berbagai faktor yang menimbulkan terjadinya persoalan itu.

"Sampai hari ini kita belum menemukan dimana titiknya, oleh karena itu kita akan terus melakukan kajian dan investigasi sehingga titik kordinat dari permasalahan ini bisa ketemu," jelasnya.

Menurutnya, sebagai warga negara yang mempunyai hak yang sama, khususnya berkedudukan diwilayah Kota Bogor, maka tidak boleh lagi ada warga Kota Bogor yang putus sekolah karena faktor apapun. Maka kewajibannya adalah, pemerintah Kota Bogor Pemerintah Provinsi, DPRD Kota Bogor dan DPRD Provinsi harus melihat konteks persoalan ini secara objektif.

"Jangan hanya melihat karena faktor 'X' nya yang akan menjadi korban, tetapi carilah sebab musabab awal kenapa anak ini menjadi korban dan sebagainya. Karena persoalan seperti ini bukan hanya 1 kali, tetapi banyak persoalan yang sama selain ini yang mengadukan kepada kita, tetapi objektifitasnya harus ditunjukan," paparnya.

Ia mengatakan, sebelumnya telah menanyakan kepada orang tua siswa tersebut sebagaimana anaknya itu sudah mendapatkan sangsi, apakah siswa tersebut mempunyai masalah yang sama sebelumnya.

"Ternyata setelah ditanyakan dan ditelusuri tidak punya persoalan apapun sebelumnya, artinya kenakalan remaja ini kategorinya masih bisa dilakukan pembinaan tinggal bagaimana empati dari pihak sekolah, pihak pemerintah dan dari seluruh stek holder kepada anak-anak yang dalam tanda kutip kategorinya adalah nakal," sambungnya.

Iwan menegaskan, seharusnya ketika kenakalan siswa itu terjadi, pihak sekolah tidak lantas serta merta memberikan sangsi, dimana sangsi itu bukan sebuah solusi tetapi sangsi itu adalah sudah berupa hukuman.

"Kalau di ibaratkan sudah jatuh tertimpa tangga. Pilihan yang diberikan kepada orang tua murid itu bukan solusi tetapi adalah pilihan yang mau tidak mau, suka tidak suka harus diambil dan pada ahirnya itu menjadi korban," ungkapnya.

Tetapi, masih kata Iwan Kusmawan, kalau kita bijak menyikapinya di persoalan ini maka pilihan itu adalah harus masuk kepada sebuah solusi, sehingga ketika solusi itu diberikan disitulah ada take and give kepada kedua belah pihak. 

"Misalnya orang tua murid sudah menyadari kalau anaknya ini dikategorikan pada saat itu nakal. Karena ini kenakalan remaja, lalu apa pembinaannya, apakah diarahkan kepada hal-hal yang positif agar tidak terulang lagi, bukan malah justru dihadapkan sebuah persoalan seolah-olah antara hidup dan mati. Saat ini keadaannya setengah mati setengah hidup, karena mau melanjutkan sekolah ada aturan yang memang harus dipenuhi," katanya.

Maka sebagai langkah selanjutnya, pihaknya akan melakukan advokasi dan pemdampingan melalui Jaringan Informasi dan Advokasi Masyarakat.

"Sehingga ada titik balik ketika ada persoalan kenakalan remaja jangan di kedepankan sangsi, tapi di kedepankan persoalan bagaimana cara melakukan pembinaan supaya anak-anak itu berubah menjadi lebih baik yang tadinya nakal, menjadi tidak nakal," pungkasnya.(Red)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply