Update

Bidik Chanel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

» » » Mr.Kan : Apakah Hutang Indonesia Mirip " Gali Lobang Tutup Lautan ,"?

JAKARTA - Mr.Kan Pengamat Hukum Dan Sosial Politik mengamati, penambahan hutang luar negeri atau HLN bagaikan " GALI LOBANG TUTUP LAUTAN ,".

Sejak Oktober 2014 sampai dengan Juli 2018 jumlah penambahan hutang luar negeri pemerintah pusat saja rata-rata menambah Rp.36,5 triliun per bulan, belum lagi penambahan hutang porsi BUMN dan swasta.

Warisan hutang luar negeri porsi pemerintah pusat di rezim SBY selama 10 tahun atau sampai dengan Oktober 2014 berjumlah Rp.2.608,78 triliun. Sebelumnya di tahun 2004 rezim kepemerintahan Megawati Soekarnoputri meninggalkan warisan hutang luar negeri porsi pemerintah pusat sebesar Rp.1.298 triliun.

Di rezim kepemerintahan presiden Joko Widodo yang masih kurang 3 bulan untuk genap jadi 4 tahun atau per Juli 2018 jumlah hutang luar negeri porsi pemerintahan pusat sudah mencapai Rp.4.253 triliun. Jika ditambah jumlah hutang BUMN dan swasta sudah pasti hutang Indonesia diatas Rp.9.000 triliun.

Sebab menurut data yang disampaikan oleh pihak kementerian keuangan negara republik Indonesia per Desember 2017 hutang Indonesia untuk porsi pemerintah pusat dan BUMN saja sudah mencapai total Rp.8.540 triliun, angka ini pun hanya dikurs dengan Rp.13.492 per dollar AS, apabila di kurs dengan Rp.15.250 per dollar AS hutang Indonesia sudah jadi berapa?

Jumlah hutang Indonesia sebesar Rp.8.540 triliun itu pun belum termasuk jumlah hutang swasta, dan juga sekarang sudah Oktober 2018, tentu sudah lebih bengkak lagi, apakah penambahan hutang Indonesia ini tidak bagaikan " GALI LOBANG TUTUP LAUTAN ", ?

Yang ingin saya tanyakan, kapan bayarnya? Pakai apa bayarnya? Siapa saja yang harus bertanggung jawab? Apa saja konsekuensinya jika negara gagal bayar hutang? Apakah ada pembukuan yang dibuka secara transparan atau terbuka sepenuhnya dan secara keseluruhannya? Kemana saja uang sebanyak itu? belum lagi termasuk pendapatan APBN, dana BPJS ketenagakerjaan sebesar Rp.73 triliun yang sudah dipakai, dana haji hampir Rp.100 triliun kemana saja di investasikan? dan lain sebagainya, ini semua angkanya sangat besar dan banyak.

Perlu kita sadari juga, sejak di jaman SBY, saya melihat negara sudah gali lobang tutup lobang, artinya negara tidak lagi mampu bayar hutang luar negeri, karena jumlah hutang luar negeri terus bertambah banyak dan tidak berkurang.

Sementara kita melihat perusahaan milik negara yakni BUMN sebagian besar terus dijual dan atau diserahkan ke pihak asing untuk dikelola, BUMN yang belum terjual pun sering kali mengalami kerugian yang cukup besar, sedangkan untung hanya sedikit, lebih banyak rugi daripada untungnya.

Tentunya pemasukan deviden negara sudah tidak sesuai dengan modal yang sudah dikeluarkan. Berapa modal yang dikeluarkan? Berapa persen keuntungan yang didapatkan? apalagi terkadang BUMN sampai merugi belasan triliun rupiah hanya per satu perusahaan BUMN. Seperti kerugian yang pernah di alami oleh PERTAMINA Rp.12 triliun, PLN rugi Rp.6 triliun, GARUDA rugi Rp.3,7 triliun, Pelindo II berindikasi rugi Rp.4,08 triliun ditemukan oleh BPK dan lain sebagainya.

Kemudian saya melihat soal penambahan hutang luar negeri, selain bagaikan gali lobang tutup lautan, juga tampak tidak produktif.

Sebab ditambah lagi pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang hanya mencapai 5,07%, cadangan devisa negara hanya dalam waktu 8 bulan saja menurun tajam, terhitung CADEV RI periode January 2018 berjumlah 131,98 miliar dollar AS turun menjadi 114,8 miliar dollar AS dibulan September 2018, artinya CADEV mengalami penurunan sebesar 17,18 miliar dollar AS atau setara dengan Rp.261,99 triliun, kurs dollar AS hingga hari ini sudah naik tinggi hingga mencapai angka Rp.15.222 per dollar AS, dan lain sebagainya

Jadi berdasarkan pengamatan saya, rezim kepemerintahan Presiden Joko Widodo sudah mengalami kegagalan besar didalam hal kepengelolaan keuangan dan perekonomian negara.

Sebagai rakyat Indonesia yang cinta akan negara kesatuan republik Indonesia, menjadikan saya merasa sangat prihatin akan fakta kondisi keuangan dan perekonomian negara yang terus menerus menurun atau memburuk. Saya rasa permasalahan negara seperti ini sudah tidak lagi sederhana.

Jika kondisi keuangan dan perekonomian negara yang terus menerus memburuk seperti ini, dan pemerintah RI tidak memiliki kemampuan untuk segera memperbaikinya secara cepat dan tepat, maka saya sangat khawatir negara sudah berpotensi tinggi untuk mengarah suatu kehancuran yang sangat mengerikan.

Sumber Rilis : Mr.Kan Pengamat Hukum Dan Sosial Politik.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply