Ads




» » » » » » Komnas Pengendalian Tembakau Undang Organisasi Dan Komunitas Perlindungan Anak

KOTA BOGOR - Komite Nasional (Komnas) Pengendalian Tembakau, kembali mengundang organisasi dan komunitas perlindungan anak khususnya yang berkedudukan di Kota Bogor. untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasinya mengenai masalah perlindungan anak, dari serbuan rokok.

Diskusi yang bertemakan "Candu rokok, kerugian ekonomi, dan hilangnya kesempatan anak mendapat gizi maksimal" berlangsung di Hotel Grand Savero, Kota Bogor, Senin (06/08/2018).

Project Director Komnas Pengendalian Tembakau, Tari Soebagio Menayang mengatakan, seperti yang diketahui, perokok pemula atau perokok anak terus meningkat di Indonesia. Harga rokok yang murah dan dijual eceran menjadi salah satu faktor yang
mendorong anak-anak untuk mudah membeli rokok.

"Dari diskusi ini diharapkan, pemerintah mendapatkan masukan dan dukungan dari masyarakat untuk melakukan upaya pengendalian tembakau yang kuat demi anak-anak Indonesia," ucapnya.

Semua orang tentu sudah paham bahwa merokok berbahaya untuk kesehatan karena dapat menyebabkan kejadian penyakit berat seperti kanker dan serangan jantung. "Belakangan ini, seiring dengan riset terus menerus terkait dampak negatif dari merokok, telah ditemukan fakta bahwa ternyata merokok berkontribusi terhadap kemiskinan di Indonesia. Bahkan, merokok juga terbukti secara ilmiah menyebabkan stunting pada anak yang lahir dari keluarga perokok," tuturnya.

Disamping itu, Direktur Utama Komunitas NO TC Kota Bogor, Bambang Priyono mengungkapkan, prevalensi perokok masih sangat tinggi di Indonesia. WHO menyatakan bahwa prevalensi perokok di Indonesia diperkirakan sebesar 39 % pada tahun 2015. Prevalensi perokok anak di Indonesia juga menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat, dari 7,2 % pada 2013 menjadi 8,8 % pada 2016 ( Sirkesnas , 2016 ).

Sebanyak 75,7% perokok, sambungnya, mulai merokok sebelum usia 19 tahun jumlahnya mencapai 16,4 juta dan yang paling tinggi adalah kelompok usla 15-19 tahun. Namun kecenderungan ini mulai bergeser ke usia yang lebih muda, yaitu kelompok usia 10-14 tahun, dalam kurun waktu 10 tahun ini, trennya meningkat dua kali lipat (Susenas 1995, 2004, SKRT 2001, Riskesdas 2007, 2010, 2013 dan BPS Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035).

"Padahal sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan prevalensi perokok anak usia di bawah 18 tahun sebesar 1 % setiap tahunnya , serta dalam RPJMN 2014-2019 ditarget prevalensi perokok anak kita pada tahun 2019 hanya sebesar 5,4 % Industri rokok selalu tidak kehabisan cara untuk memasarkan produknya, terutama untuk kalangan anak-anak yang dibuktikan dengan banyaknya iklan, promosi, dan sponsorship yang selalu menggoda anak-anak untuk menjadi konsumenya dengan pesan-pesan yang menarik anak muda," jelasnya.

Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) juga menerbitkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa rokok juga memicu stunting atau gagal tumbuh.

Secara rata-rata, tinggi anak yang lahir pada keluarga perokok lebih rendah 0,34 cm dan berat badannya lebih rendah 1,5 kg dibandingkan keluarga non-perokok. Hal ini disebabkan oleh dua faktor yakni faktor langsung konsumsi rokok yang dilakukan oleh orang tua anak stunting dan faktor tidak langsung akibat belanja rokok yang menyebabkan berkurangnya asupan gizi keluarga terutama pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

"Lebih berbahaya lagi, stunting juga berkaitan dengan rendahnya kemampuan kognitif seseorang. Hak-hak anak mendapatkan nutrisi bergizi untuk pertumbuhan tubuhnya sebagaimana kebutuhan dasar lain seperti investasi di bidang pendidikan dan kesehatan harus dipenuhi dan tida disubstitusi oleh pengeluaran rokok hanya karena efek candu dan k boleh kewenangan orang tua perokok yang lebih kuat dalam mengalokasikan pendapatan keluarga," kata Renny Nurhasana, Peneliti di Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia.

Di sisi lain, Indonesia tengah digerus tak henti-henti di bidang ekonomi akibat dampak konsumsi rokok. Setiap tahun, Indonesia menderita kerugian ekonomi makro sebesar 596 triliun rupiah atau empat kali jumlah cukai rokok di tahun yang sama (Balitbang Kementerian Kesehatan, 2015), termasuk di dalamnya beban ekonomi untuk belanja rokok, biaya kesehatan, dan total kehilangan tahun produktif.

Padahal beberapa tahun terakhir, Badan Pusat Statistik telah menunjukkan bahwa belanja terbesar kedua pada keluarga miskin adalah rokok. Ini membukt kan bahwa kerug an terbesar akibat konsumsi rokok tidak hanya di sisi kesehatan namun juga ekonomi.

Sementara, para peserta diskusi sepakat bahwa kerugian akibat konsumsi rokok sangat memberatkan kondisi perekonomian bangsa dan mengancam masa depan generasi muda Indonesia. Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah yang lebih serius untuk mengendalikan konsumsi rokok yang tinggi di Indonesia.

Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan menaikan cukai rokok untuk membuat rokok menjadi barang mahal di masyarakat, dengan harapan rokok menjadi tidak terjangkau dan konsumsinya dapat ditekan khususnya pada masyarakat miskin, rentan, dan anak- anak. (MTH)

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply