Ads




» » » » » Sikapi Permasalahan Di Kota Bogor, BEM Se Kota Bogor Turun Ke Jalan

KOTA BOGOR - Aliansi BEM se-Kota Bogor turun kejalan untuk menyuarakan permasalahan yang ada dan di Kota Bogor, serta menyangkut LKPJ tahun 2016 yang belum dan LKPJ tahun 2017 yang sampai saat ini belum terselesaikan yang menyebabkan enam skala prioritas Pemkot Bogor belum terealisasikan dengan baik.

Aksi damai yang dilakukan oleh Aliansi BEM se-Kota Bogor ini dimulai dari depan Gedung Balaikota lalu dilanjutkan dengan long-march ke depan Gedung DPRD Kota Bogor, Rabu (02/05/2018)

"Tujuan kita hari ini adalah momentum LKPJ yang dimana tiga tahun, bahkan di tahun pertama kepemimpinan Walikota Bogor Bima Arya bekerja ketika kita mahasiswa masuk kedalam momentum LKPJ. Kita hanya punya hak mendengar tidak berbicara," ucap Fatarizky Muhammad koordinator BEM se-Bogor Raya.

Sebuah surat kontrak yang berisi rekomendasi dari mahasiswa terkait penyelesaian masalah-masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintahan dibawah kepemimpinan Bima Arya dan Usmar Hariman disiapkan oleh Aliansi BEM se-Kota Bogor untuk ditandatangani oleh DPRD, agar siapapun Walikota selanjutnya yang terpilih dapat memprioritaskan permasalahan tersebut.

"Khususnya Walikota yang sekarang hanya menekankan invetaris-inventaris yang ada khususnya diwilayah Kebun Raya dan sekitarnya, padahal Bogor ini luas tidak hanya diwilayah Kebun Raya dan sekitarnya. Pembangunan yang terjadi hanya di pusat kota saja, seharusnya merata di semua wilayah," tuturnya.

Aliansi BEM berharap di sisa masa jabatan yang ada, Pemerintah Kota Bogor bisa menyelesaikan enam skala prioritas yang ada di dalam surat rekomendasi Aliansi BEM se-Kota Bogor. 

"Kami ingin membacakan rekomendasi ini, karena mahasiswa memiliki hak bicara, bukan hanya mendengar saja," ucapnya.

Ia juga menjelaskan, dalam LKPJ tahun 2016 banyak catatan-catatan strategis yang hingga saat ini belum diselesaikan. Menurutnya, kepemimpinam Bima Arya cenderung mengabaikan hak-hak dasar masyarakat Kota Bogor. "Kota layak anak, tetapi kenyataannya banyak exploitasi anak dan peristiwa kasus yang melibatkan anak-anak yang menjadi korban, salah satunya kasus di TK Mexindo," paparnya.

Disamping itu, tambahnya, Pemkot Bogor juga telah mengobral perijinan, terbukti selama Bima Arya memimpin, banyak bangunan pencakar langit di Kota Bogor Sehingga mengurangi keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bogor.

"Sengkarut permasalahan perijinan dan bangunan bisnis komersial bermasalah terjadi, diduga ada permainan kongkalikong antara pengembang atau pengusaha dengan rezim berkuasa saat ini. Termasuk soal proyek, untuk memuluskan sejumlah proyek besar di Kota Bogor diduga telah terjadi permainan," jelasnya.

Hingga saat ini, para mahasiswa masih bertahan di depan gedung DPRD kota Bogor dan meminta agar diberikan waktu untuk membacakam rekomendasi mahasiswa terkait LKPJ walikota Bima Arya dan Usmar Hariman. (Ctr/Atv)

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply