Ads




» » » » » » » » » Industri ALL Indonesia Council Adakan Pelatihan Bekerja Dalam Kesetaraan

KAB.BOGOR-BidikNusantara 
Sebanyak 50 orang perwakilan dari 11 Federasi buruh mengikuti kegiatan Pelatihan Bekerja Dalam Kesetaraan yang diselenggarakan  IndustriALL Indonesia Council di salah satu hotel kawasan Cipayung, Megamendung, Kabupaten Bogor yang berlangsung selama 2 hari. 

Menurut Angatiem, salah satu perserta dalam kegiatan tersebut mengatakan, kegiatan ini di latar belakangi oleh UUD 1945 karena sudah menjamin setiap warga Negara berhak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan, artinya setiap warga Negara itu pasti laki-laki dan perempuan dan konvensi ILO 111 dan 100 sudah menjamin bahwa untuk pekerja yang sama nilainya naka upahnya harus sama.

Kemudian juga katanya, dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 pasal 6 menyebutkan bahwa pekerja harus mendapat perlakuan yang sama tanpa membedan atas dasar SARA . 

"Namun pada perkembangannya, ini sebenarnya tumbuhnya tidak tiba-tiba, seseorang menjadi laki-laki atau perempuan itu memang dari sananya tapi tidak ujug-ujug kita berpikir bahwa kalau perempuan itu pantasnya di rumah yang pantasnya cari nafkah adalah laki-laki,"katanya.

Dikatannya, ketika perempuan masuk Industri maka perempuan hanya pencari nafkah tambahan. "Nah, konsep berpikir seperti itukan datangnya tidak tiba-tiba tetapi melalui mekanisme budaya, politik bahkan tafsiran Agama dan lain-lain,"kata Dia.

Lina (sapaan akrabnya) mengataka, namun pada faktanya, perempuan itu dalam ketubuhannya memang berbeda dengan laki-laki karena perempuan memiliki fungsi reproduksi yang berbeda, benih atau bakal manusia itu terjadi dari uua orang, yaitu laki-laki dan perempuan. 

"Tapi karena berada lama pada tubuh perempuan, Kemudian perempuan mengalami diskriminasi di tempat kerja ketika dia bekerja. Bisa dibayangkan kalau misalnya ada lowongan superviser di Garmant atau sejenisnya di tempati di perusahaan-perusahaan biasanya yang bekerja pada usia muda atau usia produktif.  Ketika usia produktif menikah punya dan punya 3 anak perusahan akan berhitung, dalam 5 tahun seorang perempuan akan mempunyai 3 anak misalkan, berarti 3 bulan di kalikan 3 berarti satu tahun kehilangan. Kebanyakan perusahaan berpikir seperti itu, disinilah terjadi diskriminasi pada pekerja perempuan,"jelasnya.

Dibeberapa teman-teman pekerja perempuan katanya, tumbuh kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak boleh di bedakan. Memang berbeda tapi tidak boleh dibedakan karena dia perempuan, misalnya sekarang ini terjadi perbedaan mengenai Perjanjian Kerja Bersama (PKB). 

"Jadi kita tidak menginginkan adanya diskriminasi-diskriminasi atau pembedaan dalam kebijakan. Ada diskriminasi kebijakannya, aturannya memang diskriminatif ada juga aturannya yang tidak diskriminatif tapi perlakuannya diskriminatif,"bebernya.

Contoh Perlakuan diskriminatif lanjutnya menjelaskan, ketika perusahaan memasang pengumuman kesempatan kerja "Dibutuhkan sekian laki-laki" Berarti dia sudah mendiskriminatif perempuan sebaliknya "Dibutuhkan sekian perempuan" Berarti dia sudah mendiskriminasi laki-laki. Kenapa tidak di Pasang pengumuman bahwa di butuhkan orang yang mempunyai keahlian A,B dan C serta D. "Jadi, dewasa Ini dilihat dari Jenis kelaminnya bukan dari keahlianya,"terangnya.

Kemudian ungkapnya pada tataran hubungan kerja juga sering sekali ada diskriminatif, upah pekerja laki-laki dan perempuan berbeda, didalam aturan tidak tercatum bahwa pengupahan berbeda tapi kalau kita ngomong upah sebagai serikat pekerja. Upah itu adalah penghasilan Pekerja yang di bawah pulang oleh Pekerja untuk menghidupi Pekerja dan keluarganya, karena di dalam PKB menyebutkan yang di maksud keluarga Pekerja adalah istri dan anak pekerja. 

"Artinya, di dalam mainset atau di dalam isi kepala yang membuat kebijakan yaitu serikat perkerja yang saat ini di dominasi oleh laki-laki dan perusahaan menganggap pekerja itu laki-laki. Dampaknya, ketika ada tunjangan keluarga anak-anak pekerja perempuan dan suami pekerja perempuan tidak bisa mendapatkan, ketika ada pengobatan diluar BPJS, suami dan anak Pekerja perempuan tidak bisa mendapatkannya,"ucapnya.

"Kalau dia mendapatkan, maka dia harus diperlakukan berbeda, kalau istri Pekerja laki-laki dan anak-anaknya bisa mendapat fasilitas tidak pake persyaratan apa-apa tapi ketika Pekerja perempuan dia harus mendapatkan surat Keterangan RT, RW, Kecamatan bahwa Single parent (Janda-red) atau suaminya pengangguran dan lain sebagainya. Artinya ada Perlakuan berbeda,"tambahnya.

Kesadaran itu katanya, mulai tumbuh di teman-teman pekerja, tapi kan dunia Serikat Pekerja, perburuan dan ketenagakerjaan adalah duniannya laki-laki semua, tidak bisa tumbuh kesadaran hanya dari  pihak perempuan. Karena kalau yang tumbuh kesadaran hanya perempuan bisa-bisa berantem dengan "lawan" bukan musuh yang di maksud dengan Jenis kelamin yang berbeda. 

"Sekarang Ini perlindungan haid, persalinan, cuti haid, cuti bersalin bukan isu utama bagi para pekerja untuk di rundingkan dengan Pengusaha, jadi di cover seolah-olah bahwa yang lebih utama adalah kebutuhan bersama yang utama yang di rundingkan seperti masalah Upah, jaminan yang lain, transport tapi kebutuhan persalinan belum menjadi kebutuhan bersama. Anda bisa bayangkan ketika perempuan tidak mendapatkan perlindungan reproduksi yang baik, padahal sekarang ini berdasarkan survey tingkat kematian ibu dan bayi masih tinggi, karena tidak ada perlindungan sementara bayi calon penerus Bangsa. Kalau dia nggak berkualitas dan kita sekarang ini masuk pasar AFTA dan MEA maka Indonesia tidak bisa bersaing,"tegasnya.

Untuk itu harapannya, karena perempuan sudah mempunyai kesadaran tetapi laki-lakinya kadang kala belum menjadikan perioritas bahwa Ini kebutuhan bersama, kebutuhan organisasi yang mesti di perjuangkan sama-sama, kadang di benturkan dengan perspektif Agama, Sosial budaya, Politik dan lain sebagainya. Maka, kemudian terkadang di tafsirkan berbeda, ketika kepentingan politik  tidak menginginkan si calon A yang perempuan maka kemudian tafsir Agama di gunakan atau sebagai alat kepentingan. 

"Untuk itu, training saat ini dimaksud pada tumbuh kesadaran  bersama untuk bersama-sama berjuang dalam organisasi untuk perlindungan, persalinan, dan lain-lain. Ketika saat Ini Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 pasal 83 baru memberikan kesempatan menyusui, tapi kesempatan menyusui itu tidak aplikatif karena jarak rumah buruh dengan tempat kerjanya jauh, transportasi tidak memadai untuk membawa anaknya selain itu di tempat pabriknya juga nggak ada ruangan yang layak. Sementara anak yang tidak mendapatkan ASI ini secara kesehatan dia rentan, imun dan staminanya akan lebih tinggi dari pada anak yang menggunakan susu formula,"urainya.

Selain itu ungkapnya, permasalah ekonomi, karena susu itu kalau sebulan berdasarkan survey antara Rp. 350 ribu hingga sampai Rp. 1 jutaan.  Bisa di bayangkan anggap saja rata-rata Rp. 500 ribu, berarti dalam setahun mencapai Rp. 6 juta dan kalau 2 tahun sudah Rp. 12 juta dan ini bisa di hemat dengan memberi ASI eksklusif, maka sekarang sudah ada SKB yang bisa menjamin tetapi belum aplikatif.

"Training ini kita mengundang narasumber ada dari bebagai perspektif. Seperti, perspektif kebersamaan dan kesetaraan dan juga dari perspektif agama, maka kami mengundang ulama agar mengtahui dari sisi Agama seperti apa itu kesetaraan, juga ada perspektif laki-laki yang judah mulai melek dengan tindakan diskriminasi dan tindakan patriati itu sebenarnya juga tidak menguntungkan bagi laki-laki,"tuturnya.

"Setelah training ini, kita tidak berharap mereka yang mengikuti akan langsung ada perubahan nilai, karena nilai bukan hal yang mudah akan di rubah, tapi dengan adanya upaya-upaya seperti Ini walaupun saat ini baru tahap pencerahan tetapi belum bisa masuk merubah dirinya dan itu mungkin belum tapi kan dengan harapan seiring berjalannya waktu  melalui beberapa tahapan pengalian, diskusi dan interaktif dapat di ketahui perasaan pekerja ketika hal tersebut mereka rasakan atau mungkin sudah di alami oleh pekerja, kira-Kira itu yang di inginkan dari training kita saat ini,"pungkasnya. 
Reporter: Sumburi

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply