» » » » » » » » » » Peran Serta Perusahaan Dalam Pembangunan Wilayah

KAB.BOGOR-BidikNusantara
Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. Wacana ini digunakan oleh perusahaan dalam rangka mengambil peran menghadapi perekonomian menuju pasar bebas. Perkembangan pasar bebas yang telah membentuk ikatan-ikatan ekonomi dunia dengan terbentuknya AFTA, APEC dan sebagainya, telah mendorong perusahaan dari berbagai penjuru dunia untuk secara bersama melaksanakan aktivitasnya dalam rangka mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia 1992, menyepakati perubahan paradigma pembangunan, dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Dalam perspektif perusahaan, di mana keberlanjutan dimaksud merupakan suatu program sebagai dampak dari usaha-usaha yang telah dirintis, berdasarkan konsep kemitraan dan rekanan dari masing-masing stakeholders. Demikian diungkapkan Ruhiyat Sujana Tokoh Pemuda Pamijahan seperti disampaikan melalui Siaran persnya Kepada bidiknusantara.com. Kamis (12/10).

Menurutnya, ada lima elemen sehingga konsep keberlanjutan menjadi penting, di antaranya adalah ; (1) ketersediaan dana, (2) misi lingkungan (3) tanggung jawab sosial, (4) terimplementasi dalam kebijakan (masyarakat, korporat, dan pemerintah), (5) mempunyai nilai keuntungan (Idris, 2005).

Disebutkannya pula bahwa berbagai peristiwa negatif yang menimpa sejumlah perusahaan, terutama setelah reformasi, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik dan manajemen perusahaan untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab yang lebih baik kepada masyarakat, khususnya di sekitar lokasi perusahaan. 

"Sebab kelangsungan suatu usaha tidak hanya ditentukan oleh tingkat keuntungan, tapi juga tanggung jawab sosial perusahaan. Apa yang terjadi ketika banyak perusahaan didemo, dihujat, bahkan dirusak oleh masyarakat sekitar lokasi pabrik?,"tandasnya.

Bila ditelusuri lanjutnya, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian dan tanggung jawab manajemen dan pemilik perusahaan terhadap masyarakat maupun lingkungan di sekitar lokasi perusahaan. 

"Investor hanya mengeduk dan mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di daerah tersebut, tanpa memperhatikan faktor lingkungan. Selain itu, nyaris sedikit atau bahkan tidak ada keuntungan perusahaan yang dikembalikan kepada masyarakat. Justru yang banyak terjadi, masyarakat malah termarginalkan di daerah sendiri,"tegasnya.

Ruhiyat juga membeberkan, Pamijahan merupakan wilayah yang didalamnya ada tiga perusahaan besar yaitu : 1. Star Energy,  2. Indonesia Power, 3. PT.  Samuel (JDG) dan ditambah perusahaan kecil lainnya,  yang menjadi pertanyaan mendasarnya sejauh mana peran dan tanggung jawab perusahaan tersebut dalam ikut serta membangun wilayah pamijahan? Sebagai bentuk tangung jawab mereka yang berusaha di wilayah pamijahan, jangan sampai hanya numpang usaha tapi tidak ada kontribusi terhadap lingkungan. 

"Saya sebagai warga Pamijahan mendesak pihak-pihak pelaku usaha agar bisa menunaikan kewajiban tanggung jawab sosial dan lingkungan agar cita-cita pembangunan dan kesejahteraan bagi masyarakat bisa terwujud,"pungkasnya.
Reporter: Sumburi

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply