» » » » » » » » » » Siti Rohamah TKW Di Duga Korban Penjualan Manusia Kembali Ketanah Air

TANGERANG-BidikNusantara
Kepedulian Organisasi Barisan Patriot Bela Negara terhadap dugaan korban perdagangan orang yang terjadi di Desa Rancabanggo, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang tediri dari Dua orang.

Satu diantaranya bernama Siti Rohamah yang selamat sampai rumah setelah kurang lebih satu tahun berada di Dubai Timur Tengah tanpa di beri gaji dan anehnya semua dokumen seperti pasport dan dokumen yang lain di rebut oleh oknum yang tidak di kenal yang di duga sindikat perdagangan orang yang mempunyai akses khusus yang berada di dalam bandara karena sindikat ini leluasa keluar dan masuk bandara.

Namun tidak sampai di sini saja Barisan Patriot Bela Negara (BPBN) DPW II Kabupaten Tangerang Provinsi Banten akan terus membantu Siti Rohamah agar seponsor atau agency memberikan gaji atau upah yang merupakan haknya. 

Pantauan bidiknusantara.com sesampainya di rumah orang tuanya pada hari sabtu Tanggal 23 September 2017 pukul16.00 wib Siti di sambut dengan suka duka oleh pihak keluarga dan bahkaan ada yang menangis histeris.

Siti Rohamah yang kedatanganya di tunggu-tunggu oleh pihak keluarga dari hari Selasa lalu penjemputan tersebut agak terlalu di dramatis atau kesan di buat-buat pada tanggal 19 September 2017 yang pada saat itu Holil, Tunah orang tua Siti Rohamah serta RT Samah dan seponsor saudara H dan utusan HM menginap di rumahnya HM.

Setelah itu baru menuju kebandara. tapi pada saat sudah dekat bandara tiba-tiba di batalkan dengan alasan di tahan di kedutaan. 

"Kami merasa di kecewakan oleh pihak agency dan kami kembali pulang kerumah tanpa membawa anak kami,"ujar orang tuanya merasa kecewa Saat itu.

Sementara satu korban bernama Latipah yang masih ada di Timur Tengah adalah warga Desa Rancabanggo, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yang sampai saat ini belum kembali sejak Februari 2016 dari negara tujuan Abu Dhabi.

Hingga saat ini tidak ada kontak atau komunikasi dengan keluarga di Indonesia. Menurut keluarga Latipah komunikasi terakhir sekitar Juni 2016 dan sampai sekarang Latipah tidak ada kabarnya, HM selaku seponsor tidak bisa memberikan dokumen atau menunjukanya malah terkesan menutupi,"tutur Safei kakak kandung Latipah pada saat di konfirmasi.

 Pada saat awak media Bidiknusantara menemui Nurdin Kurniawan Ketua  Organsisasi Barisan Patriot Bela Negara (BPBN) DPW II Kabupaten Tangerang Provinsi Banten menceritakan , sempat mengirim surat ke Bupati Kabupaten Tangerang untuk melakukan peninjauan kembali perihal surat dari orang tua korban pada tanggal 05 Juni 2017.

Dan pada waktu itu Bupati kabupaten Tangerang sempat memanggil keluarga korban melalui pemberdayaan perempuan Ibu dan anak di Tiga Raksa Kabupaten Tangerang provinsi Banten. 

"Namun tidak ada perkembangan sehingga kami melakukan koordinasi kembali dengan pihak-pihak terkait Camat, Binmas Polsek Rajeg, Babinsa Koramil 17 Rajeg, Kepala Desa, RT, RW, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda untuk menghadirkan dan mengundang serta meminta pihak kecamatan memanggil sponsor yang memberangkatkan Siti Rohamah dan Latipah,"urainya. 

Lebih LanjutNurdin Kurniawan mengemukakan, berdasarkan hak dan kewajiban di atas pengakuan dan kesaksian dan kecintaannyw terhadap bangsa dan negara adalah bagian dari Bela Negera Sumpah dan Jabatan. 

"Kami siap mengayomi dan melindunggi dan mengabdi untuk segenap rakyat Indonesia dan sesuai dengan Undang-undang 1945,"tegasnya.

Siti Rohamah yang di duga korban penjualan orang menceritakan kronologis kejadian pada saat keberangakatannya ke Dubai. Siti menceritakan bahwa dirinya membuat pasport ke Kalianda Lampung secara diam-diam, ada pihak lain yang mengurus tanpa dirinya ketahui. Setelah itu kenangnya, dirinya kembali ke Banten untuk menunggu kurang lebih satu bulan.


"Saya berangkat dari rumah menuju bandara Halim terus terbang ke Surabaya, dari Surabaya terbang ke Dubai. Dari awal sampai akhir saya tidak tahu PT yang memberangkatkan saya,"ujarnya mengenang.

Sesampainya di Dubai, dirinya di tampung di suatu tempat, setelah dua hari dirinya di pekerjakan tapi majikan dan saya tidak cocok.

"Saya di kembalikan kepenampungan, saya di kunci dan hp di sita sehingga saya tidak bisa berkomunikasi hingga sekitar tujuh bulan. Terkadang saya mendapatkan intimidasi dari pengawas Indonesia, saya pernah di jambak dan teman saya ada yang kepalanya di 
jedotkan ke dinding, semua teman - teman saya ingin pulang ke Indonesia tapi tidak ada yang mengurusnya,"paparnya.

Siti Rohamah menceritakan juga bahwa dirinya bersama rekan-rekannya di kunci didalam ruangan seperti Apertemen. 

"Ketika itu ada pemeriksaan, kami di pindahkan dan kami di ancam agar jangan berisik,"pungkasnya.
Reporter: Syarief Hidayatulloh

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply