Syekh Ibnu Atha'illah: Hakekat Haji Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Syekh Ibnu Atha'illah: Hakekat Haji Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Bidik Nusantara
Selasa, 01 Agustus 2017

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menjelaskan tentang hakikat haji ketika menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 197-203:

"Haji adalah perumpamaan dari Kematian Kehendak (al-Maut al-Irâdiy) yang akan memunculkan Kehidupan Hakiki (al-Hayâh al-Haqîqiyyah). Inilah ciri-ciri kehidupan yang disebut sebagai Kehidupan Biasa (al-Hayâh ath-Thabî'iyyah).

Jadi barangsiapa yang ingin mencapai haji dan kehidupan sejati, maka hendaklah ia mematikan dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan Kehidupan biasa yang merupakan pinjaman Allah yang tidak abadi.

Tujuannya adalah agar ia dapat mencapai Kehidupan Hakiki yang Azali (al-Hayâh al-Haqîqiyyah al-Azaliyyah) yang baka, abadi, dan kekal. Semua itu tidak mudah dilakukan kecuali hanya dengan keluar dari berbagai konsekuensi akal parsial yang bercampur dengan ilusi dan khayalan, bahkan seringkali akal parsial itu dikuasai oleh berbagai khayalan itu.

Semua itu tidak dapat dicapai kecuali hanya oleh salik ahli ibadah yang telah dibersihkan oleh Al-Haqq s.w.t. dari dirinya sendiri secara bertahap dan meningkat dari satu alam ke alam lain yang telah dipilih oleh Zat-Nya, sampai akhirnya ia tiba di maqam dan martabah yang merangkum semua martabah lainnya di sisi Allah. Di situlah semua alam menjadi fana`, sebagaimana dirinya juga ikut fana` di situ. Ia tidak akan jatuh sama sekali dari ketinggian itu.

Bahkan tersuruk, ia justru akan teguh, kukuh, dan tenang di situ, sebagaimana kita melihat jiwa-jiwa seperti itu penuh harap untuk mencapai maqam tersebut seiring bergantinya zaman. Allah selalu mengulurkan bayangan-Nya yang Mahatinggi kepada para Ahli Yakin dan Makrifat (Irfan).

Misteri di balik asma Allah sebagaiman misteri Dia itu sendiri, haihata haihata, kita tak mungkin bisa bahkan sekedar untuk membicarakannya. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai pelayan di hamparan debu "kaki-Nya."

Setelah Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk melaksanakan haji ke Baitullah, sebagai bentuk takzim bagi rumah-Nya dan kandungan yang ada di dalamnya, Allah juga menganjurkan mereka untuk berbuat baik serta penggunaan harta dalam kebaikan dan jalan kebaikan agar jiwa mereka dapat meresapi sifat terpuji ini, sebab tindakan yang enggan berderma akan menghalangi kecenderungan hati kepada sang Kekasih Sejati yang dapat menjadi biang keladi dari segala bentuk fitnah.

Allah S.W.T berfirman: "Dan apa yang kalian kerjakan demi keridhaan Allah berupa kebaikan yang bersih dari pamrih dan sikap menyakiti, suci dari ujub dan riya, terhindar dari bisikan setan-setan hawa nafsu niscaya Allah mengetahuinya dengan hudhûr, karena kebaikan semacam ini selalu berjalan di atas jalan lurus yang merupakan Jalan Allah yang agung dan lempang dan berbekallah untuk meniti Jalan Allah dengan penuh sikap hati-hati terhadap dunia dan isinya."

Dan sesungguhnya sebaik-baik bekal bagi hamba-hamba Allah untuk menyongsong Hari Akhir adalah takwa menjaga diri dari berbagai bentuk kerusakan dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal yang selalu bertawajuh kepada inti dari segala inti, yang selalu menjauhi kulit yang menghalangi hudhûr. Antarkanlah kami ke situ dengan kelembutan-Mu wahai Zat yang kelembutannya tersembunyi.

Wahai Kaum Mukminin, sesungguhnya tidak ada bagi kalian dosa, kesempitan dan kepayahan setelah kalian berlindung dari murka Allah dan membekali diri kalian dengan takwa, untuk mencari karunia berupa makrifat keyakinan dan kelezatan ruhaniah dari Tuhan kalian, yang telah memelihara kalian dengan berbagai kelembutan dan kemurahan.

Maka apabila kalian telah bertolak, wahai Kaum Mukminin dari Arafat, dari Dzat yang Maha Meliputi semua sifat yang dapat kalian jangkau semuanya, karena tiap-tiap orang mampu mencapai itu, mampu mencapainya lewat jalan khusus. Kalau pun setelah sampai, ternyata yang tercapai hanya satu sifat saja, maka itu merupakan bagian dari ketunggalan Dzat Hakiki yang sama sekali tidak mengandung keberbilangan.

Berzikirlah dengan menyebut nama Allah yang akan menghimpun kalian semua di Masy'arilharam, yakni sifat-sifat yang keberadannya mengharamkan keberadaan yang selain Dzat Allah. Hanya Allah yang memiliki masy'ar ini karena kekhasan tiap-tiap sifat yang dimiliki-Nya.

Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepada kalian, dengan menyerahkan semua urusan kepada-Nya dan dengan perlindungan kalian kepada-Nya dari bisikan setan-setan yang menyesatkan.

Dan sesungguhnya kalian sebelum itu, yakni sebelum datangnya petunjuk dari Allah, benar-benar termasuk orang-orang yang sesat yang kebingungan di pelosok kesesatan dan jauh dari hidayah yang sejati.

Kemudian, ketika kalian tawajuh dan wukuf di Arafah Dzat telah sempurna sehingga kalian teguh di situ, bertolaklah kalian darinya dari tempat bertolaknya orang-orang banyak menuju martabah-martabah, dari martabah menuju sifat-sifat Allah. Dan, mohonlah ampun kepada Allah yang Maha Meliputi kalian di situ, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Menutupi tingkat dan posisi kalian, Mahapenyayang kepada kalian dengan menghantarkan kalian ke tempat asal kalian yang asli.

Apabila kalian telah menyelesaikan manasik kalian yang telah diperintahkan kepada kalian, yaitu untuk menjauhi berbagai hal yang berhubungan dengan kehidupan dunia serta menerapkan sifat yang berhubungan dengan entitas hakiki maka berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah] yang memberi petunjuk kepada kalian menuju martabah ini seperti kalian menyebut-nyebut nenek moyang kalian tanpa ragu atau berzikirlah lebih banyak dari itu bahkan menyebut-nyebut nama Allah (zikrullâh) lebih jelas daripada menyebut-nyebut nenek moyang (zikr al-âbâ`), karena di dalamnya terkandung keraguan. Hal ini berbeda dengan zikrullah yang merupakan cabang dari kesaksian (asy-syuhûd) serta mengikuti fana` yang ada di dalamnya. Semua itu sama sekali tidak mengandung keraguan.

Maka di antara manusia ada orang yang membatasi tawajuh dan munajat kepada Allah hanya demi kehidupan dunia, dan berdoa: "Wahai Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia, berupa berbagai kebutuhan hidup yang kami butuhkan di dalamnya," namun ketika dia sampai pada keinginannya di dunia tiadalah baginya bagian di akhirat bagian baginya disebabkan persiapannya menuju sesuatu yang tidak berguna baginya, tetapi justru berbahaya baginya.

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa, yaitu orang yang menghimpun antara yang lahir dengan yang batin, antara yang dunia dengan yang akhkirat:

"Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia yang Engkau ridhai kepada kami di dalamnya dan kebaikan di akhirat yang mengantar kami menuju tauhid-Mu dan lindungilah kami dengan kelembutan-Mu, dari siksa neraka. Jauhkan kami dari penderitaan dalam imkân yang menyebabkan munculnya bayangan semu."

Mereka itulah orang-orang yang menepati janji, bertauhid, dan berhasil menghimpun martabah lahir dan martabah batin yang mendapatkan bagian yang sempurna daripada yang mereka usahakan di dunia yang merupakan ladang bagi akhirat, berupa berbagai pengetahuan ladunniy dan kasyf Ilahi; Allah yang Maha Meliputi mereka dan hati kecil mereka, sangat cepat perhitungan-Nya, untuk memperhitungkan dan kemudian memberikan balasan atas apa yang mereka lakukan.

Dan berzikirlah dengan menyebut "Allah" setelah kalian menyelesaikan semua manasik haji dan wukuf di Arafah dalam beberapa hari yang berbilang, yaitu hari-hari tasyriq. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat, maksudnya ingin cepat pulang sesudah dua hari, pada hari tasyriq yang kedua maka tiada dosa baginya dengan tindakannya mempercepat itu.

Dan barangsiapa yang ingin menangguhkan maka tidak ada dosa baginya dengan penangguhannya itu. Maksudnya, kalian dipersilakan memilih apakah ingin mempercepat atau menangguhkan kepulangan kalian setelah kalian sampai, karena kemenangan dan kesejahteraan adalah bagi orang yang bertakwa kepada Allah dengan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Dan bertakwalah kepada Allah pada semua tindakan kalian dan mintalah perlindungan kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian semua kepada-Nya, bukan kepada yang selain Dia, akan dikumpulkan Kalian akan dikumpulkan seperti kembalinya bayangan kepada sang Pemilik bayangan."

Penulis: Syekh Ibnu Atha'illah
Editor: Sumburi.