Mahasiswa Gelar Aksi Penyalaan 1000 Lilin Di Tugu Kujang Bagi Korban Penembakan Di Deiyai

Mahasiswa Gelar Aksi Penyalaan 1000 Lilin Di Tugu Kujang Bagi Korban Penembakan Di Deiyai

Bidik Nusantara
Jumat, 11 Agustus 2017

Aliansi Mahasiswa Peduli Masyarakat Papua (AMPMP) menggelar doa dan penyalaan 1000 lilin di Tugu Kujang Bogor, Rabu (09/08) dari pukul 17:00 hingga 22:00 wib.

Aksi ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi​ seperti Ikatan Mahasiswa Papua Bogor (IMAPA), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Pemuda Demokrat.

Koordinator Lapangan, Yanko dari IMAPA Bogor mengatakan bahwa aksi ini merupakan wujud dari kepedulian terhadap korban kekerasan dan pelanggaran HAM yang terjadi di Papua, dimana pihak militer dengan seenaknya menembak orang pribumi Papua yang tidak bersalah.

"Kami menyalakan Lilin dan mendoakan bagi korban penembakan oleh militer di Deiyai pada 1 Agustus 2017 yang menelan korban jiwa.  Itu secara garis besar 3 poin yang menjadi tuntutan mahasiswa Papua terkait penembakan di Deiyai 1 Agustus 20017 yang menyebabkan 1 orang meninggal dunia, 5 orang kritis dan 11 orang luka luka,"katanya.

Pihaknya mengecam dan mengutuk tindakan refresif militer Indonesia dan pelaku penembakan harus di usut sampai tuntas.
"Kami juga meminta agar PT dewa  (sala satu perusahaan yang memobilisasi Brimob ke TKP) segera di usir dari Kabupaten Deiyai,"tegasnya.

Sementara itu, Ketua Presidium PMKRI cabang Bogor, Yogen Sogen mengatakan bahwa aksi penyalaan lilin dan doa ini merupakan wujud peduli bagi korban penembakan dan mendoakan bagi masyarakat Papua yang mengalami tekanan di tanahnya sendiri.

"Lilin sebagai simbol terang jiwa bagi yang meninggal, bagi juga sebagai penerang bagi gelapnya HAM, demokrasi dan Hukum di Papua, selama ini kasus pelanggaran HAM di Papua sering terjadi dan kasusnya tidak pernah selesai bahkan terus membelenggu masyarakat Papua,"tegasnya.

Pihaknya menuntut Negara dan Pemerintah hadir dan menuntaskan berbagai persoalan peristiwa pelanggaran HAM tersebut.

"Di tanah Papua kebebasan bagai momok yang menakutkan bagi orang asli Papua, Papua hanya dilihat sebagai ladang yang subur bagi negara tapi masyarakatnya tandus untuk diberikan ruang berekspresi untuk hidup mereka. Mari kita memeluk Papua dengan kasih bukan dengan tindakan kekerasan,"pintanya.

Lanjut dikatakannya, penembakan oleh aparat tersebut merupakan matinya nurani manusia dan pelemahan terhadap hukum di Indonesia.
"Kemerdekaan seperti apa yang dijanjikan ketika bulan penyambutan momentum kemerdekaan Indonesia diselingi dengan pembunuhan yang kejam oleh aparatur negara,"sesalnya.

Berikut tiga tuntutan dalam aksi tersebut.
1. Negara bertanggungjawab atas kejahatan kemanusiaan di Deiyai.
2. Segera tangkap dan adili pelaku kekerasan sesuai hukum yang berlaku.
3. Negara harus menjaga hak hidup orang Papua.
Reporter: Sumburi