Update

Bidik Chanel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

» » » » » » » » » Episode Sang Pembela; Altruistik

Suatu aktivitas kerja bisa disebut profesi, setidaknya harus memiliki 5 komponen ; berbasis keilmuan; independen, altruistik, diikat oleh tata nilai etis ( etika profesi ) dan akhirnya harus ada garda yg menjaga kepastian pada nilai-nilai etika yaitu dewan kehormatan. Ini melekat pada profesi dokter, advokat, notaris dan hakim. Demikian ungkapan Sugeng Teguh Santoso diatas commuter line Jakarta Bogor, Sabtu (19/082017).

Dikatakannya, mengapa seorang dokter diruang UGD harus cepat menangani pasien segera sebagai tindakan penyelelamatan tanpa diperbolehkan mempertanyakan biaya pada pasien atau keluarganya ?  Seorang advokat wajib memberikan bantuan hukum gratis/cuma-cuma pada pencari keadilan yang tidak mampu ( miskin, tertindas, tidak mampu mengakses hak-hak nomatifnya).  "Sikap dokter dan advokat tersebut adalah pengegejawantahan dari sifat altruistik profesi,"urainya.

Sifat altruistik atau faham altruisme ini katanya, adalah suatu tata nilai yang mewajibkan penyandang profesi melayani nilai-nilai kemanusiaan.

"Nilai-nilai yang melekat pada tiap individu sebagai mahluk Tuhan; yaitu hak untuk hidup, hak untuk dijauhkan dari rasa takut, dijauhkan dari perlakuan kekerasan dan perlakuan yg merendahkan harkat manusia,"jelasnya.

Dalam melayani nilai-nilai kemanusiaan, penyandang profesi tidak boleh membedakan perlakuan berbasis suku, ras , agama, warna kulit dan bahasa. Karenanya dalam profesi advokat maka sejak ia menyandang starus advokat, ia adalah human right defender ( pembela hak asasi manusia ) . Dalam uu advokat 18 tahun 2013 pasal 22 dan kode etik advokat , nilai altruistik ini ditanamkan.

"Karena nilai normatif ini maka seorang advokat berhak menyandang status Nobile Officium (profesi yang mulia),"ungkapnya.

Sifat altruistik ini lanjut Pria yang akrab di sapa STS ini, memerlukan bahan baku dasar dari individu itu sendiri yang tumbuh berkembang dan menguat dalam proses hidup individu jauh sebelum ia memasuki profesi. Bahan baku dasar itu adalah sifat empati yang terasah, rela berkorban, dan tidak kalah penting adalah keberanian menghadapi resiko (bernyali).

"Bahan baku dasar ini sudah setidaknya harus melekat, karena sebelum menyandang profesi, ia adalah individu yang sama dengan individu lain. Kalau tidak ada bahan dasar ini akan sulit diharapkan sikap altruistik terwujud pada penyandang profesi. Tidak bisa ujug ujug seorang yang indivudilistik, materialis, dan selfish akan mampu bersikap altruistik pada saat menjadi advokat,"paparnya.

Dari mana bahan baku itu?, tanyanya,  pendidikan budi pekerti dan penanamanln nilai-nilai agama menjadi sangat penting. Persfektif altruistik ini sejalan dengan dasar negara Pancasila ; kemanusiaan yang adil dan beradap dalam wilayah nilai KeTuhanan Yang Maha Esa.

"Seorang advokat akan mampu menjadi agent perubahan; politik, sosial dan hukum bila mengembangkan dengan baik prinsip-prinsip nilai altruistik ini,"tuturnya.

Disebutkannya juga, keahlian berfikir analitis, sistimatik, terstruktur yang diasah pada jalan profesi akan menempatkan advokat menjadi primus interpares. Pada belahan dunia yang menerapkan demokrasi para advokat menjadi pioner perubahan; AS, Korea, Filipina, Eropa. 

"Di Indonesia ? Sangat mungkin karena sejak didirikan oleh founding father, kita menganut prinsip negara hukum demokratis,"ucapnya.

Kalau saudara advokat dan membaca tulisan ini, mari saudara lakukan instropeksi, kalau anda warga biasa ini adalah informasi yang baik untuk dibaca.

"Buat anda kaum muda yang mau memilih profesi, ikutlah jalan ini. Jalan-jalan yang akan membawa anda pada pergumulan membela kemanusian. Kemuliaan menanti anda,"pungkas STS.
Reporter: Sumburi

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply