Update

Bidik Channel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

» » » » » » » Presidium Santri Bogor Raya, Kecam Keras Ajakan Saudara Wawan Setiawan Sholat Menghadap Ke Timur

Beredarnya surat dari saudara Wawan Setiawan warga di Desa Tegal Gede, Kecamatan Pankejeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang mengirimkan surat ke Pemerintahan Desa setempat untuk melaksanakan salat lima waktu dan salat Jumat dengan kiblat ke arah timur (tidak ke arah ka'bah) mendapat reaksi dari beberapa pihak.

Kecaman ini juga muncul dari Presidium Santri Bogor Raya yang sangat mengecam tindakan sodara wawan tentang sholat menghadap ketimur.

Menurut Ketua Presidium Santri Bogor Raya, Muhamad Muhsin, pemerintah dan kepolisian harus bertindak tegas karena ini merupakan penistaan sholat atau pelecehan terhadap agama.

"Ini aliran sesat, tidak boleh dibiarkan berkembang. Saya meminta kepada pemerintah terutama pihak kepolisian agar bertindak tegas dan cepat terhadap masalah ini sebelum meluas yang dapat meresahkan masyarakat setempat,"katanya kepada bidiknusantara.com, Senin (27/03).

Sebelumnya, hal ini mendapat kecaman juga dari Pengurus Pusat Majelis Ulama Indoneaia (MUI) dan pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) seperti di beritakan oleh Garuda News.

Dari laman Garuda News menyebutkan, Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Anton Tabah Digdoyo, meminta negara segera bertindak dalam menyikapi permintaan salah seorang warga di Desa Tegal Gede, Kecamatan Pankejeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Wawan Setiawan, yang mengirimkan surat ke Pemerintahan Desa setempat untuk melaksanakan salat lima waktu dan salat Jumat dengan kiblat ke arah timur (tidak ke arah ka'bah).

"Jika berita tersebut benar, negara harus segera bertindak tanpa harus menunggu laporan dari masyarakat, apalagi fatwa MUI, karena penodaan agama bukan termasuk delik aduan," tegasnya kepada garudanews.id, Senin (27/3).

Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat ini mengaku, kasus penodaan agama memiliki derajat  keresahan masyarakat yang sangat tinggi. Dalam sejarah selalu meningkat ketika PKI mau bangkit.

Menurutnya, ini terjadi pra G30S/PKI 1965 lalu keluar Surat Edaran Mahkamah Agung 24Mei1964 agar hakim tidak ragu menvonis berat pelaku penodaan agama. Dan pada Januari 1965 lahir UU nomor 1 PNPS 1965 tentang penodaan agama yg ancaman pidananya cukup berat diperkuat oleh KUHP Pasal 156a.

Era rezim sekarang ini, lanjut Anton, kasus penodaan agama juga meningkat, namun Polri terkesan ragu dalam bertindak, lebih banyak menunggu laporan masyarakat dan jika ada laporan terkesan kurang tanggap bahkan di SP3kan.
"Padahal kasus penodaan agama sangat meresahkan,  jika dibiarkan bisa menjadi embrio konflik sosial yang tak mudah," papar purnawirawan jenderal polisi ini.
Dikatakannya, kasus shalat tidak menghadap ke arah ka'bah jelas sesat, karena itu MUI kata dia minta Polri cepat dalam melakukan tindakan hukum.

"Apalagi sudah sangat banyak yurisprudensi kasus yg sama semua pelaku penodaan agama divonis berat. Terbaru tanggal 20 Maret 2017 kemarin, PN Semarang jatuhkan vonis 18 bulan penjara kepada Andrew Handoko yang telah menghina Al-Quran," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua MUI Garut, KH. Sirojul Munir mengatakan, jika terbukti menjadi pelaku penyebaran aliran sesat, dengan tata cara arah kiblat saat melaksanakan salat tidak sesuai dengan ajaran Islam sesungguhnya, harus mendapat tindakan.

Pemerintah tidak harus menunggu fatwa MUI. Terlebih, di Desa Tegalgede, Pakenjeng, Garut, terindikasi telah terjadi penyebaran aliran sesat.

"Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap yang bersangkutan, jika memang terbukti sebagai pelaku aliran sesat," ujarnya.

Hal ini, sebenarnya kata dia merupakan persoalan lama, tetapi anehnya selalu terulang. "Tentu hal ini membuat resah warga yang lain," ucap Munir.

Lanjut Munir, pihaknya memastikan, MUI sangat siap untuk dijadikan saksi ahli dalam kasus itu, apabila permasalahannya sudah masuk pada ranah hukum.

"MUI selalu siap untuk menjadi saksi, jika ini berlanjut ya. Kami akan lakukan apapun, demi menjaga keutuhan NKRI," katanya.

Seperti diketahui, masyarakat Garut Jawa Barat resah dengan salah seorang warganya, Wawan Setiawan, yang mengirimkan surat ke untuk melaksanakan shalat dengan kiblat ke arah timur.

Surat tersebut sempat beredar di Desa Tegalgede, Pakenjeng Garut, dan diserahkan kepada pihak Desa Tegalgede.

Pihak Polsek dan ulama di Kecamatan Pakenjeng, mengambil langkah dengan memanggil dan memberikan nasihat kepada Wawan bahwa permohonan tersebut tidak lazim dan bertentangan dengan ajaran Islam.


Terlebih yang bersangkutan (Wawan Setiawan) telah menyatakan diri sebagai seorang jenderal di bawah pimpinan Sensen Komara, terpidana kasus makar dan menyatakan bahwa dia sebagai rasul.
Reporter: Sumburi

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply