» » » » » » » » » Obyek Wisata Cipamingkis Sukamakmur Makin Banyak Diminati Wisatawan

KAB.BOGOR-BidikNusantara
Obyek Wisata alam Curug Cipamingkis makin banyak diminanti oleh wisatawan lokal dan bahkan beberapa wisatawan manca negara banyak, Kawasan obyek Wisata Cipamingkis yang berada di Desa Wargajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor di bawah penglolaan Perhutani, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor dan sebagai penanggung jawab wilayah yaitu Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) yang membawahi beberapa wilayah yakni Cisarua, Megamendung, Babakan Madang dan Sukamakmur dengan luas wilayah saat ini sekitar 9250 hektar dan untuk KPH Bogor membawahi 5 BKPH yakni BKPH Parung Panjang, BKPH Jasinga, BKPH Ujung Karawang, BKPH Bogor dan BKPH Jonggol dengan luas 48.000 hektar.

Menurut Asper BKPH Bogor, Iyus Rusliana saat menerima kunjungan rombongan Farm Trip Jurnalis yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, Kamis (08/03), untuk obyek wisata Cipamingkis ada beberapa obyek yang menarik perhatian pengunjung antara lain, Curug (air terjun) Cipamingkis, Rumah Pohon dan jembatan cinta. Spot-spot ini sangat favorit oleh pengunjung.

"Untuk tata kelola sendiri kami bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Puncak Mandiri yang bertujuan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat terhadap keberadaan obyek wisata di wilayah ini," katanya.

Diwilayah ini kata Iyus, diberikan kebebasan bagi LMDH Puncak Mandiri untuk menyediakan berbagai fasilitas penunjang seperti Rumah pohon yang saat ini menjadi tempat favorit pengujung untuk selfie, jembatan cinta, pengaturan parkir dan warung-warung yang ada di sini.

"Di Cipamingkis ini sendiri dibuka area untuk wisata seluas 15 hektar dengan fasilitas saat ini yaitu area Camping Ground, Toilet, Mushollah, warung-warung tempat makan, jembatan cinta dan rumah pohon selain obyek alami yaitu dikenal dengan Curug Cipamingkis dan paling menariknya adalah kesejukan rimbunan pohon pinus yang identik dengan tanaman kawasan perhutani,"ucap Iyus.

Ini semua termasuk pemanfaatan jasa hutan diwilayah Bopuncur dan Jabodetabek karena saat ini seluruh hutan yang ada di kawasan perhutani Bogor yang dahulu hutan produksi menjadi hutan sesuai dengan keputusan presiden menjadi hutan penyangga yang artinya sudah tidak boleh menebang pohon hanya boleh memanfaatkan jasa lingkungan, jasa pariwisata dan agro porestri seperti getah pinus, tanaman Kopi dan lain sebagainya dan tidak diperbolehkan untuk tanaman sayuran karena dapat merusak area hutan.

"Yang terpenting bagi kami adalah bagaimana sama-sama menjaga hutan dan tidak merusak lingkungan, begitupun dari pendapatan melalui bagi hasil, misal dari retribusi karcis masuk Perhutani atau untuk setor Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) 75 persen sementara untul LMDH 25 persen, sebaliknya untuk pengunjung yang menggunakan fasilitas rumah pohon sebesar Rp. 2000 sistim bagi hasil untuk LMDH 75 persen dan Perhutani 25 persen dan parkir 75 persen untuk LMDH dan 25 persen untuk PAD Kabupaten Bogor,"jelasnya.

LMDH sendiri kata Dia, yaitu lembaga yang di bentuk oleh perhutani yang disetujui oleh kepala desa dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) tahun 2007 lalu yang bertujuan untuk membangun kawasan hutan bersama masyarakat sekitar hutan seperti di Cipamingkis, Curug Leuwi Hejo Babakan Madang dan Curug Panjang, Curug Cileuksa dan Curug Naga wilayah Megamendung.

"Program pemanfaatan hutan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat sekitar hutan tanpa merusak lingkungan yang ada akan tetapi dengan memanfaatkan sumber daya lain tetap bisa memberi manfaat bagi masyarakat,"ujarnya.
Bagi pihak perhutani, membuka diri untuk kawasan perhutani dikelola oleh siapapun seperti halnya LMDH asal tidak boleh dimiliki dan disertifikasi kepemilikan pribadi apa lagi menebang pohon.

"Saat ini, LMDH melalui PHBM dapat mengelola hutan untuk komoditi kopi, Capulaga dan jenis-jenis tanaman lainnya yang tidak merusak kawasan hutan. Dan saat ini di kawasan perhutani ada dua tanaman industri yaitu Jati dan Pinus, kami juga melakukan pengawasan setiap 10 tahun sekali guna memastikan tidak ada perubahan oleh penyerobotan lahan oleh oknum baik masyarakat ataupun pengusaha yang dapat mengikis luas wilayah perhutani,"jelasnya.

Pantaun Bidiknusantara.com sepanjang perjalanan menuju kawasan obyek wisata alam Cipamingkis Sukamakmur sepertinya Pemerintah Kabupaten Bogor masih memiliki Pekerjaan Rumah (PR) besar terhadap infrastruktur pendukung pariwisata guna mempermudahkan wisatawan menjangkau wilayah ini.


Pembangunan jalan atau pelebaran jalan menuju wilayah ini adalah hal yang paling penting mengingat akses menuju wilayah ini masih belum memadai untuk kendaraan besar seperi Bus Pariwisata karena jalan masih sempit terlebih trek jalan yang dilewati terdapat tikungan tajam serta tanjakan curam, baik jika melalui Citeureup maupun daerah Jonggol.
Reporter: Sumburi

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply