» » » » » » » » Kecaman Atas Hotel Transit Parunk Kian Ramai

KAB.BOGOR-BidikNusantara
Saat ini Parung identik dengan julukan kawasan mesum. Jika sebelumnya para hidung belang bertransaksi dengan wanita jalang di warung remang-remang, maka sejak Hotel Transit Parung berdiri 17 tahun yang lalu, kawasan Parung menjadi sedikit "naik kelas". Dari warung remang-remang merambah ke hotel prostitusi. 

Hotel Transit Parung sudah dijadikan tempat hiburan malam bahkan ada karaoke. Masyarakat sekitar yang sedang istirahat menjadi sangat terganggu dengan kebisingan luar biasa dari Hotel Transit Parung.

Ustadz Madhusin warga asli Parung, yang juga Ketua Koordinator Gempar (Gerakan Masyarakat Parung) mengaku risih dengan stigma Parung sebagai kawasan mesum.

"Sebagai warga Parung, jelas sangat mengganggu dengan julukan Parung sebagai kawasan esek-esek. Keberadaan warung remang-remang dan Hotel Transit Parung tentu meresahkan kami. Itulah sebabnya, kami mendesak agar hotel tersebut ditutup," ujarustadz muda ini kepada Bidiknusantara.com.

Terkait hal ini Haerudin ketua Front Pembela Islam (FPI) Kecamatan Parung angkat bicara. Dikatakannya, masyarakat sudah sangat mengetahui bahwa Hotel Transit Parung menjadi tempat ajang pesta mesum dan transaksi prostitusi.

"Sudah banyak bukti yang sangat menonjol adalah peristiwa 18 Mei 2010, terdapat pria dan wanita PNS Kota Depok bukan suami istri tewas dalam kondisi berpelukan di hotel itu juga pernah di jadikan tempat pembuatan Film Porno yang terjadi di kamar B41. Bukan hanya itu saja katanya, dari catatan pihaknya tak hanya narkoba yang beredar, minuman keras mudah didapatkan di Hotel Transit Parung sangat nyata di depan mata, tamu Hotel Transit Parung banyak yang pulang dalam keadaan mabuk," papar Ketua FPI.

Sementara Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor KH Ahmad Mukri Aji mengatakan hotel itu sudah melanggar, seperti dalam pelayanan hotel sudah kearah maksiat, ada minuman alkohol dan narkoba di sana.

"Sangat jelas hotel itu sudah tidak baik. Kalau hotel yang benar itu harus sesuai aturan seperti buat IMB, tidak ada tempat hiburan malam yang menimbulkan kemaksiatan," kata Mukri saat dihubungi.

Lanjut Mukri, melihat hotel yang sudah 2 tahun tak memiliki izin lingkungan dari masyarakat, hal itu sangat berdasar karena hotel itu memang sudah menyalahi aturan.

"Keputusan masyarakat dan pak camat masuk di akal, hotel itu udah jelas ada minumannya, ada tempat hiburan malamnya. Kalau emang gak ada kegiatan itu mungkin pak camat dan masyarakatpun akan memberikan izinnya,"pungkasnya.
Reporter: ISP

About bidiknusantara com

Terima kasih telah mengunjungi Bidik Nusantara, Untuk informasi publikasi, liputan dan iklan hubungi redaksibidiknusantara@gmail.com atau 081317043003
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar :

Leave a Reply