Update

Bidik Chanel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

» » » » » » » » » » » Menguak Warisan Peradaban Megalitik Gunung Salak

Gunung Salak yang lerletak di barat daya Kabupaten Bogor, Jawa Barat, lebih banyak dikenal dengan sejuta pesona dan keindahan alamnya yang eksotis. Hawanya yang sejuk dan puncaknya sering ditutup kabut kian menambah daya bagi "traveler". Namun, belum banyak yang tahu bila gunung ini juga memiliki banyak kekayaan warisan cagar budaya.

Di berbagai penjuru kaki, lereng hingga puncak gunung berketinggian 2.211 meter di atas permukaan laut ini banyak ditemukan situs bersejarah, yang menjadi saksi bisu peradaban kuno Nusantara, yang membentang panjang hingga zaman Megalitikum. Gunung ini dapat dijadikan sebagai destinasi baru wisata budaya dan sejarah peradaban manusia.

Gunung Salak memiliki banyak situs bersejarah yang sangat bernilai. Catatan penulis, setidaknya ada sembilan kawasan cagar budaya yang tersebar di seantero Gunung Salak. Pertama, Situs Cibalay; Kedua, Situs Bale Kambang; Ketiga, Situs Punden Berundak Kebon Kopi; Keempat, Situs Punden Berundak Jami Piciing, Batu Bergores, dan Taman Sriwedari. 

Keempat titik ini terletak di Kampung Cibalay, Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Pada setiap titik, terdapat puluhan hingga ratusan situs. Kelima, kawasan situs Pasir Manggis. Di daerah ini terdapat Situs Batu Kuya, dan Punden Berundak zaman Megalitikum. Situs Pasir Manggis terletak di Kampung Tenjolaya Kidul, Desa Tapos I, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor.

www.bidiknusantara.com
Keenam, Situs Kuta Gegelang, terletak di di Desa Gunung Bunder, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Ketujuh, kawasan Situs Calobak,  di Kampung Calobak, Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari. Di kawasan ini, terdapat punden berundak purba, serta sejumlah makam keramat tokoh-tokoh Sunda kuno. Kedelapan, kawasan Situs Kampung Budaya Sindangbarang, yang terletak di Kampung Sindang Barang, Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.
Terakhir, kawasan Kabuyutan Badigul, terletak di Bukit Badigul, Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Situs terakhir ini sudah punah, karena sejak akhir 1990-an disulap menjadi padang golf oleh pengembang Rancamaya Estate.

Cibalay: Warisan Peradaban Megalitikum 
Penulis memersempit pembahasan dengan fokus pada Situs Cibalay, mengingat situs ini paling dulu ditemukan masyarakat, menyita perhatian banyak pakar dan ilmuwan nasional dan mancanegara, paling tua dari situs-situs lainnya yang tersebar di kawasan Gunung Salak, memiliki banyak keunikan dan diferensiasi, serta terhampar pada area luas, yaitu mencapai lebih dari 45 hektare.

Situs Cibalay berada di lereng utara Gunung Salak dengan ketinggian berkisar 900 meter di atas permukaan laut. Area sekitar situs banyak ditumbuhi vegetasi berupa pohon pinus, cemara, bambu, dan aneka jenis tanaman tropis lainnya. Selain itu, terdapat tanaman hanjaung serta handeuleum.
Dari pusat Kota Bogor menuju Situs Cibalay membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan kendaraan roda empat. Dari jalan beraspal, Jalan Curug Luhur--Tenjolaya, menuju lokasi berjarak 2 km, ditempuh dengan jalan kaki sekitar 40 menit. Akses ke lokasi hanya ada jalan setapak, campuran batu tanah, dengan kondisi berbukit, menanjak.

Berdasarkan data yang dilansir Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor (2011), Situs Cibalay ini dilaporkan pertama kali oleh De Wilde (1830), kemudian Junghuhn (1844), lalu Muller (1856), dan yang terakhir oleh N.J. Krom dalam "Rapporten van den Oudheidkundige Diensten Nederlandsch-indie 1914: inventaris derhindoe-oudheden" pada tahun 1914. Situs ini diperkirakan telah ada sejak 3.000 SM alias berusia lebih dari 5.000 tahun.

Kendati telah lama ditemukan dan secara tradisional dirawat oleh juru kunci, nama Situs Cibalay belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, termasuk masyarakat Bogor dan sekitarnya.
Pada tahun-tahun silam, tidak banyak yang tahu bila di Gunung Salak terdapat situs warisan peradaban Megalitikum. Hal ini cukup disayangkan, mengingat gunung ini menyimpan "file" penting terkait dengan sejarah peradaban Megalitikum.

Nama Situs Cibalay baru mencuat dan menjadi perbincangan masyarakat sekitar empat tahun silam. Pada tahun 2010--2011, Pemerintah Kabupaten Bogor mulai menaruh perhatian terhadap keberadaan situs ini. Dalam hal ini Wakil Bupati Bogor (kala itu) Karyawan Faturrachman sering menyambangi situs ini sehingga Situs Cibalay mulai ramai diperbincangkan dan kerap diliput media massa.

Ramainya perbincangan mengenai Situs Cibalay, menggelitik penulis menyambangi lokasi keberadaan cagar budaya tersebut. Sejak April 2015, penulis sudah tujuh kali menyambangi kawasan situs ini untuk melihat dari dekat dan memelajari kandungan sejarah yang terpendam di dalamnya.

Sebelum ditetapkan sebagai situs cagar budaya oleh Ditjen Kebudayaan Kemdikbud beberapa tahun silam, situs ini dipelihara secara turun-temurun oleh Abah Ending dan keluarga sejak 1920-an. Ayah dan ibu Abah Ending sekeluarga sejak 1920-an mendiami sebidang tanah di area situs ini dengan menghuni gubuk dari bilik.

Dari tahun 1960-an hingga kini, Ending menggantikan sang ayah sebagai juru kunci. Situs Cibalay diperkirakan berjumlah ratusan buah. Sebagian besar berupa bebatuan zaman Megalitikum. Dari pemotretan udara dan pemetaan yang dilakukan Belanda maupun Perhutani, total areal kawasan Situs Cibalay lebih dari 20 hektare. Dari sekian luas areal situs ini yang sudah tergali baru sebagian kecil. Sebagian besar lainnya masih tertimbun tanah dan terkubur lebatnya vegetasi hutan lindung Gunung Salak.

Pengelolaan Situs Cibalay masuk dalam kewenangan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang, yaitu sebuah unit teknis di bawah Ditjen Kebudayaan, Kemdikbud. Balai ini mencakup wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung. Sejauh ini areal yang sudah dibuka BP3 Serang baru sebagian semak yang menutup pada tiga punden berundak. Saat ditemukan kondisi situs dalam keadaan terhalang oleh semak belukar, temasuk beberapa menhir dan batu dolmen.

Temuan punden berundak yang terletak di sebelah selatan situs Cibalay itu bekas anak tangga menuju area peribadatan suci pada masa zaman purba Megalitikum. Pada area Cibalay diduga kuat terdapat bekas hunian permukiman masa Megalitikum. Terdapat sejumlah batu yang berbentuk ranjang sebagai tempat membaringkan badan dan istirahat. Ada pula batu-batu yang tertata rapih, membentuk sebuah balai pertemuan khas zaman purba, yang dinamai Bale Kambang. Sebagian batu lainnya berupa punden berundek, yang diyakini oleh warga sekitar Cibalay sebagai keraton kerajaan zaman purba.

Sekitar 1 km dari Situs Cibalay menuju arah selatan (menanjak arah puncak) Gunung Salak, terdapat sejumlah situs yang lebih unik. Situs tersebut berbentuk relief batu hasil pahatan berukuran relatif cukup besar, sekitar 2 m x 6 m, bergambar perahu. Batu ini tertancap di tebing gunung dengan tingkat kemiringan 70 derajat. Sebagian kecil badan situs ini tampak, dan sebagian lainnya tertimbun oleh tanah.

Diperkirakan pada lokasi sekitar batu perahu ini pernah terjadi longsor. Selain itu, sekitar 500 m dari situs perahu terdapat situs bergambar binatang, seperti rajawali dan katak. Namun, penulis tidak melihat adanya papan pengumuman pada situs perahu, rajawali, dan katak. Tampaknya situs-situs ini belum dicatat oleh instansi terkait. Total luas area Situs Cibalay yang sudah dibuka mencapai 4 hektare. Merujuk pada data hasil pempotretan dan pemetaan yang dilakukan Belanda dan Perhutani bahwa area situs ini mencapai 45 hektare, berarti baru sekitar 10 persen yang sudah dibuka, sedangkan 90 persen lagi masih belum dibuka.

Karena cakupannya sangat luas, diperkirakan masih banyak lagi situs-situs lainnya di kawasan ini. Para petugas juru kunci dan juru pelihara situs ini mengaku, bila dalam satu hari saja berhasil membuka sebidang tanah semak belukar, dipastikan mendapatkan banyak temuan situs baru. Situs-situs tersebut masih tertutup vegetasi atau tertimbun tanah, diperkirakan tersebar hingga area puncak Gunung Salak. Situs Cibalay diperkirakan memiliki kaitan dengan Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, yang diperkirakan berusia lebih dari 6.000 tahun, atau lebih tua daripada peradaban Mesir Kuno. Situs Cibalay berusia 5.000 tahun. Keberadaan kedua situs ini sebagai bukti bahwa Indonesia merupakan pusat peradaban tertua di dunia.

Lokasi Keraton Salaka Nagara 
Kendatipun belum ada lagi penelitian ilmiah secara terpadu dari instansi terkait untuk meneliti warisan peradaban Megalitikum di Gunung Salak, warga sekitar Situs Cibalay meyakini daerah setempat sebagai pusat peradaban Nusantara zaman purba, atau sebelum ada suku-suku Sunda, Jawa, Madura, Melayu, Bugis, dan Dayak.

Selain itu, warga sekitar Tenjolaya juga meyakini kawasan Cibalay merupakan eks Keraton Kerajaan Salaka Nagara, yaitu sebuah kerajaan tertua di Nusantara, yang menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Taruma Nagara di Pulau Jawa dan Kerajaan Kutai Kartanegara di bumi Kalimantan.

Kerajaan Salaka Nagara eksis pada abad 1 hingga abad 4 M, sedangkankan Kerajaan Taruma Nagara dan Kutai Karatanegara eksis mulai abad ke-4 dan bertahan hingga abad 7. Warga sekitar Cibalay lebih familier menyebut situs tersebut dengan istilah Salaka Domas atau Keraton Salaka Nagara. Istilah Salaka Nagara berasal dari bahasa Sanskerta, dapat diartikan negeri perak. Penggunaan istilah "Salak" untuk memberikan nama gunung ini, tidak dapat dilepaskan dari faktor Salaka Domas atau Salaka Nagara.

Klaim Situs Cibalay sebagai lokasi Keraton Salaka Nagara oleh masyarakat setempat diperkuat dengan adanya temuan-temuan situs megalitik di kawasan ini, yang banyak berbentuk segitiga. Segitiga adalah simbol "Tritangtu di Buana", yaitu falsafah Sunda. Secara bebas, "Tritangtu" dapat diartikan hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan alam, dan hubungan dengan sesama manusia.

Keberadaan Kerajaan Salaka Nagara memperkuat hipotesis bahwa peradaban Sunda merupakan yang terkuno di bumi Nusantara. Sebagai bukti kesinambungan sejarah dari warisan peradaban era Megalitikum yang ditemukan di Gunung Salak maupun Gunung Padang. Namun, sayangnya sejarah terkait dengan Salaka Nagara tidak banyak dikupas di bangku sekolah sehingga masyarakat hanya tahu Kerajaan Taruma Nagara dan Kerajaan Kutai Kartanegara, sebagai dua kerajaan tertua di Indonesia.

Menurut naskah Wangsakerta, Salaka Nagara didirikan oleh tokoh Aki Tirem. Pemerintahan Salaka Nagara dipimpin oleh raja-raja dengan gelar Dewawarman. Tercatat gelar Dewawarman diturunkan selama delapan generasi (Dewawarman I--VIII). Diperkirakan kejayaannya mulai abad ke-1 hingga tahun 362 M. Selanjutnya, kekuasaan pada eks wilayah Salaka Nagara dilanjutkan Kerajaan Taruma Nagara. Jayasingawarman, raja pertama Taruma Nagara adalah menantu dari raja terakhir Salaka Nagara Dewawarman VIII.

Versi lain menyebutkan, Kerajaan Salaka Nagara berpusat di Teluk Lada, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Di sekitar Mandalawangi dan Gunung Pulosari, Kabupaten Pandeglang, ditemukan sejumlah situs yang diyakini warga setempat sebagai peninggalan Kerajaan Salaka Nagara. Dari Kerajaan Taruma Nagara itulah terjadi diaspora kerajaan-kerajaan di bumi Nusantara.

Pada zamannya, Taruma Nagara berkuasa atas 48 kerajaan bawahan di Nusantara. Setelah Taruma Nagara bubar pada tahun 669, kekuasaannya dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda yang beribu kota di Batutulis, Bogor, dan Kerajaan Galuh, berpusat di Ciamis. Era Sunda-Galuh alias Pajajaran bertahan hingga 1579.

www.bidiknusantara.com
Tempat Semadi Para Raja 
Kawasan Gunung Salak sejak zaman purba hingga era Kerajaan Pajajaran dijadikan sebagai tempat suci. Gunung Salak adalah tempat semadi/tirakat para raja lintas zaman. Makam dan petilasan-petilasan Aki Tirem, tokoh yang memiliki andil besar atas sejarah lahirnya Kerajaan Salaka Nagara, diperkirakan berada di Gunung Salak. Tokoh Aki Tirem memiliki relatif banyak nama. Kadang dia disebut Prabu Angling Dharma. Tidak sedikit pula masyarakat yang menyebutnya Wali Jangkung.

Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran dan Raja Sunda paling masyhur berkuasa pada tahun 1482--1521) adalah pemimpin yang paling banyak memiliki tempat semadi atau tirakat di Gunung Salak. Petilasan sang prabu diperkirakan berjumlah ratusan buah yang tersebar di seluruh penjuru Gunung Salak.

Masuk akal bila petilasan Prabu Siliwangi di Gunung Salak berjumlah banyak. Selain dia memimpin relatif cukup lama, yakni hingga 39 tahun, Kerajaan Pajajaran juga beribu kota di Batutulis, Bogor, hanya berjarak beberapa kilometer saja dari Gunung Salak. Raden Kian Santang alias Sunan Rohmat, putra Prabu Siliwangi dari garis isteri Nyi Mas Subang Larang, yang namanya melegenda di tengah masyarakat, memiliki beberapa tempat semadi di Gunung Salak. Begitu pula, dengan raja-raja Pajajaran lainnya setelah era Prabu Siliwangi, memiliki banyak petilasan di Gunung Salak, di antaranya, Prabu Ragamulya Surya Kancana, raja terakhir Pajajaran.

Ia memiliki sejumlah petilasan di Gunung Salak yang kerap didatangi peziarah. Penulis melihat situs-situs di Gunung Salak masih jarang mendapatkan sentuhan pemerintah. Bila terus didiamkan terbengkalai, dikhawatirkan situs-situs tersebut akan makin terkubur dalam puing reuntuhan sejarah. Selain itu, dikhawatirkan tragedi yang menimpa Situs Batu Kuya peninggalan Kerajaan Salaka Nagara di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, pada tahun 2008, akan terulang di Gunung Salak.

Situs Batu Kuya saat itu dicuri, hendak diselundupkan dan dijual ke Korea Selatan. Negara-negara lain mengincar potensi besar kekayaan warisan sejarah gemilang bangsa kita pada masa silam, untuk diklaim sebagi warisan budaya mereka. Sementara itu, pemerintah kita tampak masih lamban dalam merawat kekayaan warisan cagar budaya nasional. 
Penulis Oleh: Ahmad Fahir, S.Ag, M.Si, 
Ketua Yayasan Serambi Nusantara

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

3 komentar:

  1. Tulisan yang sangat bagus, informatif dan sangat menarik. Terima kasih banyak

    BalasHapus
  2. Pak Ahmad Fahir Yth, numpang bertanya. Setelah membaca tulisan informatif yang bikin penasaran ini, apakah Situs Cibalay ini peninggalan Prabu Siliwangi atau Kerajaan Salaka Nagara? Saya coba cari-cari di internet, belum ketemu. Apakah ada referensi tentang ini? Atau penelitiannya belum selesai? Terima kasih. Salam, Diella

    BalasHapus
  3. Terima kasih pak Fahir, artikel ini saya jadikan salah satu literatur online untuk materi artikel terbaru saya dalam kategori sejarah Indonesia. Semoga berkah, Aamiin.

    BalasHapus