Update

Bidik Channel

Peristiwa

Pendidikan

Pariwisata

Sejarah

Infotainment

Galery

Wide Game Meriahkan Hut ke 74 RI di SMK Citra Pariwisata

KOTA BOGOR - Berbagai cara bisa dilakukan untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, cara yang paling umum adalah dengan menggelar berbagai perlombaan.

Seperti halnya yang dilakukan SMK Citra Pariwisata, Sekolah kejuruan dan multimedia yang berada di Jalan Raya Cibeureum Gang Kabayan, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini, selain mengadakan berbagai perlombaan dalam memperingati hari bersejarah ini juga menggelar kegiatan Napak Tilas yang diikuti seluruh siswa-siswinya.

Ketua panitia Neng Idah Agustin mengatakan, dalam rangka memperingati Hut RI ke 74 ini SMK Citra Pariwisata mengadakan kegiatan wide game atau napak tilas.

"Kegiatan Napak Tilas ini dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia yang di ikuti seluruh warga SMK Citra Pariwisata dari mulai kelas 10, 11 hingga 12," kata Neng kepada wartawan, Selasa (20/08/19).

Ia menjelaskan, dalam wide game ini para peserta mengikuti berbagai permainan.

"Jadi para peserta jalan keluar sekolah kemudian memasuki pos-pos nanti di tempat tersebut di isi berbagai macam permainan sesuatu yang di lombakan," jelasnya.

Neng berharap, dengan adanya kegiatan ini para siswa SMK Citra Pariwisata bisa menghargai waktu. Karena, dari pos satu ke yang lainnya di batasi waktu. Setidaknya mereka (siswa) bisa merasakan perjuangan para pahlawan kita terdahulu," imbuhnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Hendra Saputra S.Pd menambahkan, sesuai yang di tekankan Kepala para siswa harus mengikuti visi dan misi Sekolah.

"Bapak Kepala Sekola menrkankan bagi peserta wide game ini harus mengikuti visi dan misi SMK Citra Pariwisata terhadap masyarakat sikap, etika, ramah tamah yang beliau tekankan itu di aplikasikan dalam lomba ini," tegasnya.

Lanjut Hendar menjelaskan, sepanjang perjalanan mereka (siswa) melewati jalan raya. Yang harus dipatuhi oleh peserta diantaranya salam senyum jika bertemu masyarakat yang dilewati, tidak diperkenankan berkata kasar dan menjaga tanaman milik warga serta peduli lingkungan untuk memungut sampah yang ada di jalan.

"Setiap perjalanan anak-anak (siwa) diwajibkan memungut sampah, baik itu plastik, sisa-sisa makanan dan menjaga kebersihan diarea rute selama perjalanan," pungkasnya. (Gan)

Momen Hari Kemerdekaan Waktu yang Pas Untuk Mengenalkan Wajah Baru Kepemudaan

KOTA BOGOR - Memeriahkan Hari Kemerdekaan RI adalah kegiatan rutin tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kegiatan-kegiatan tersebut diselenggarakan untuk mengisi hari kemerdekaan dengan semangat persatuan. Hal tersebut juga dimanfaatkan oleh Karang Taruna Unit Rw 2 Sukasari. Senin (19/8/2019)

Karang Taruna Unit Rw 2 Sukasari yang baru terbentuk Juni 2019 memanfaatkan momen ini dengan sangat baik. Terbukti sejak organisasi ini berdiri, sudah membuat gebrakan-gebrakan yang mampu mengaktifkan masyarakat sekitar Rw 2 sukasari.  Salah satunya dalam momen Hari Kemerdekaan ini. 

Ketua Karang Taruna Unit Rw 2 Sukasari M.  Fajar Syahputra mengatakan,  bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan  agar bisa mempersatukan warga dan memajukan masyarakat. "Kedepan saya berharap agar bisa memandirikan warga serta membuat warga menjadi lebih berkualitas dan bisa bersaing di zaman yang serba modern ini," ucapnya.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Sutan Syahrudin, Ketua Bidang Advokasi Karang Taruna Rw 2 Sukasari yang juga berprofesi sebagai Konsultan Hukum, bahwa sukasari adalah lokasi strategis yang seharusnya minim sekali angka pengangguran,  putus sekolah dan kemiskinan, maka Karang Taruna Unit Rw 2 hadir dan ingin menjadi bagian untuk memajukan masyarakat bersama pemerintah,  karena selama ini peran kepemudaan yang dirasa kurang sehingga pemerintah tidak mampu menyentuh kalangan masyarakat menengah kebawah.

Momen Hari Kemerdekaan ini merupakan waktu yang pas untuk mengenalkan wajah baru kepemudaan di sukasari khususnya di Rw 2 agar masyarakat mengetahui bahwa pemuda sudah mulai bergerak bersama-sama rakyat," terangnya

Ketua Rw 2 Ayi Makmun berharap, kedepan agar pemuda lebih meningkatkan kekompakan,  mampu bersinergi dengan warga untuk bergotong royong serta meningkatkan SDM warga dan karang taruna, sebab 31 Agustus mendatang Rw 2 Sukasari menjadi tuan rumah kegiatan Festival Ciliwung 2019 tingkat Kecamatan Bogor Timur, " ungkapnya

Saat Ibunda Wafat Hanya Bisa Menangis, Tidak Bisa Mensholatkan dan Mengantar ke Liang Lahat

JAKARTA - Mochamad Ridwan Andjali, lelaki berusia 60 tahun hanya bisa menangis hebat. Air matanya tumpah menahan rasa duka yang mendalam saat petugas dari Polda Metro Jaya pada hari senin 19 Agustus 2019. Menyampaikan kabar dari bandung bahwa ibunda tercintanya, Hj Eroh wafat.

Kondisinya yang berada dalam tahanan tak bisa berbuat banyak, selain menangis. Hasratnya untuk melihat wajah terakhir sang bunda, Hj. Eroh, menyolatkan dan melepas ke peristiraatan terakhir tak bisa ia lakukan.

Mohammad Ridwan Andjali adalah satu dari sekian orang yang ditahan di Mapolda Metro Jaya sejak peristiwa 21-22 Mei yang lalu.

Kejadian bermula ketika Ia datang dari Bandung untuk mengikuti Aksi Damai. Ketika memasuki waktu maghrib yang bersangkutan sholat di mushola Sarinah dan berlanjut hingga isya. Selepas Isya ia hendak keluar guna mencari bis menuju Bandung, tapi dicegah oleh Satuan Pengamanan gedung, yang menjelaskan bahwa diluar sedang terjadi kerusuhan.

Ridwan memutuskan untuk kembali ke mushola menunggu suasana mereda. Sekitar Pukul 21.00, saat dirinya sedang rebahan di mushola tiba-tiba datang aparat menangkap dan mengira bahwa ia adalah pelaku kerusuhan yang bersembunyi di mushola.

Kasusnya kini sudah memasuki persidangan kedua dengan agenda pemeriksaan saksi dari JPU. Sidang pertama digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada hari Selasa 13 Agustus 2019.

Penasehat Hukum Ridwan, Advokat DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, dari LBH Hidayatullah Pusat, membenarkan perihal musibah yang menimpa kliennya tersebut. 

Dudung menyampaikan bahwa ia mendapatkan informasi dari putri kliennya yang bernama Santi Susianti pada pukul 11.00 hari Senin, 19 Agustus 2019.

Dirinya langsung berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum yang menangani perkara tersebut, agar kliennya bisa diizinkan untuk ke Bandung guna menghadiri pemakaman ibundanya. Namun karena status Ridwan kini tahanan Pengadilan, maka izin untuk itu harus atas perintah pengadilan.

Dudung menyampaikan bahwa sebelumnya ia sudah sepakat dengan pihak keluarga untuk kembali mengajukan Penangguhan Penahanan, yang akan diajukan pada Majlis Hakim dalam persidangan Selasa 20 Agustus 2019.

"Kami berharap, Majlis Hakim mengabulkan penangguhan penahanan klien kami, selain karena musibah duka tersebut, juga karena alasan kesehatan yang bersangkutan", pungkas Dudung. (LBHH)

OSIS SMP Ma'arif NU Sukaraja Meriahkan HUT RI Ke-74

Kab Bogor, Bidiknusantara - Rangkaian acara memeriahkan HUT RI ke - 74 ditahun 2019, OSIS SMP Ma'arif NU Sukaraja tengah menggelar rangkaian kegiatan disekolah, beberapa cabang perlombaan yang digelar, mulai dari lomba BTQ, Pidato, Azan dan lomba menghias ruang kelas hingga berbagai lomba jenis hiburan.
Rossi Nurhaleni selaku Ketua OSIS memaparkan " ini adalah rangkaian acara dalam rangka memeriahkan HUT RI yang ke 74 ditahun 2019, ini adalah pembelajaran pertama kami para pengurus OSIS, mulai dari perencanaan, pengumpulan dana hingga pelaksanaan 100 % OSIS diberi kepercayaan penuh untuk melaksakan kegiatan ini, dan alhamdulillah berkat kerja sama tim dan pengurus OSIS, rangkaian kegiatan ini berjalan sukses " paparnya, Senin (19/8).
Acara tersebut didukung penuh oleh seluruh siswa, mulai dari kategori lomba religius hingga lomba bersipat hiburan bisa terlaksana dengan baik.
" ini berkat kekompakan dan dukungan dari seluruh dewan guru yang selalu mendampingi disetiap even yang kami laksanakan " paparnya lagi.
Sementara Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan Supriatna menambahkan " ini adalah kerja keras tim dan para pengurus OSIS yang sudah bekerja sepenuh hati, ini adalah pembelajaran terhadap siswa bagai mana menjalankan organisasi maupun nenjalankan program kegiatan tahunan, walaupun demikian tetap mendapat pendampingan dari dewan guru " pungkasnya.
Bahkan keseruan terjadi ketika lomba estafet tepung dan karet gelang hingga menusuk balon yang berisi tepung menambah kegembiraan seluruh keluarga sekolah. (Yat)

Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum Legalitas FPI dan Dakwah Khilafah dalam Tinjauan Hukum

JAKARTA - Legalitas FPI dan Dakwah Khilafah dalam Tinjauan Hukum: "nilai-nilai yang sudah terkristal menjadi idiologi tidak ada lagi kemampuan negara untuk membubarkan"

Hiruk pikuk opini tentang perpanjangan Surat Keterangan Terdaftar bagi Ormas Front Pembela Islam (FPI) terus ramai dibicarakan diruang public, seiring dengan Perpanjangan SKT Ormas FPI yang tak kunjung dikeluarkan oleh Kemendagri RI. Tema ini yang diangkat dalam Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum edisi 12 (dua belas). Bertempat di Hotel Amaris Tebet Jakarta Selatan Diskusi Publik Islamic Lawyer Forum berlangsung hari Ahad (18 Agustus 2019).

Diskusi yang dipandu oleh Ahmad Khozinudin, SH ini menghadirkan para pembicara lintas organisasi hukum, antara lain Dr. Dudung Amadung Abdullah (Direktur LBH Hidayatullah), DR. Taufikurrahman (Direktur LBH Sahid), KH. Ali Bayanulloh (Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Bayan Sumedang), Candra Purna Irawan, SH MH (Sekjen LBH Pelita Ummat) serta KH. Awit Masyhuri (Ketua Bidang Penegakan Khilafah DPP FPI). Acara yang dimulai pukul 09.00 diawali dengan Narasi Pemancing dari Ust. Wahyusi AlMaroky (Ketua Dewan Pembina LBH Pelita Ummat). Seyogyanya, Ust. Akhmad Michdan, SH (Wakil Ketua Dewan Pembina TPM) juga hadir, namun sampai dengan acara usai tepat pukul 12.30, yang bersangkutan tidak nampak datang.

Dalam paparan pertama, DR. Dudung Amadung Abdullah, SH, MH, Direktur LBH Hidayatullah, menjelaskan bahwa apa yang terjadi sekarang sesungguhnya memiliki hubungan historis dengan apa yang terjadi sebelum Indonesia merdeka, saat Indonesia masih terjajah oleh Belanda. Dudung melihat sisi pendirian lembaga pendidikan yang menjadi cikal bakal perlawanan rakyat terhadap Belanda.

Saat itu, kata Dudung, Belanda hanya mampu memberikan layanan pendidikan 6% di tengah masyarakat, sehingga sebagian besar anak Indonesia tidak bisa mengenyam Pendidikan. Saat itulah para Kyai dan Ustadz mendirikan Lembaga Pendidikan alternative bagi anak Indonesia. Mereka mendiriakan pondok pesantren, madrasah, surau, menasah, langgar, tajug dan mushola, dimana didalamnya dididik anak-anak Indonesia. Lewat pendidiaknnya, para Kyai menanamkan semangat cinta tanah air dan mengobarkan Jiwa Nasionalisme. 

Ini lanjut Dudung, membuat Belanda khawatir sehingga para Kyai dan ustadz pun anggap musuh. Terkait dengan apa yang terjadi sekarang ini, Dudung mengkhawatirkan adanya hubungan historis antara masa kolonial dahulu dengan rezim sekarang dalam memperlakukan para kyai.

FPI menurut Dudung adalah organisasi yang taat hukum. Setiap kali akan melakukan tindakan, FPI selalu kordinasi dengan pihak keamanan. Bahkan untuk mengurus administrasi organisasinya, ia mengikuti aturan resmi yang ditetapkan negara. Selain itu, tambahnya, FPI juga sangat peduli sosial dengan menurunkan anggotanya di setiap bencana yang terjadi di tanah air. 

FPI juga sangat pancasilais dan menghormati kebhinekaan, buktinya FPI tidak pernah menyerang rumah ibadah atau memusuhi orang atas nama suku tertentu.

Dudung menjelaskan bahwa Disertasi S3 Habib Rizieq Shihab justeru mengambil tema Pancasila. 

Bahkan Dudung menambahkan, dalam cerita Permadi yang tersebar di beberap media, HRS telah menunjukkan jiwa Pancasilaisnya secara ril saat berjumpa dengan Permadi, S.H. Saat Permadi berkunjung ke rumah HRS dan tiba waktu shalat, HRS justru meminta izin kepada Permadi untuk sholat berjamaah, dan mempersilahkan Permadi memasuki ruang perpustaan pribadinya. "Pak Permadi silakan duduk di dalam kantor saya." Ujar Dudung menirukan perkataan HRS dengan Permadi.

Dudung menyampaikan bahwa jika Pemerintah tidak memberikan SKT bagi FPI padahal seluruh prasayarat administrasi sudah dipenuhi, maka pemerintah sudah melanggar Undang-Undang, terutama pasal 28 UUD 45, selain itu pemerintah juga akan rugi karena selama ini banyak mendapatkan manfaat dengan adanya FPI. Coba tengok kerjasama FPI dengan Kemensos dalam menangani sigap bencana selama ini, demikian halnya dengan kemenhan.

Pada closing statementnya Dudung menyampaikan bahwa nilai-nilai yang sudah terkristal menjadi idiologi tidak ada lagi kemampuan negara untuk membubarkan, secara formal organisasi mungkin dibubarkan, tapi idiologi tidak bisa. (LBHHID)